AMBON, N25NEWS.id – Ancaman yang dihadapi remaja saat ini tidak lagi sebatas kenakalan remaja. Kecanduan media sosial, judi online, krisis kesehatan mental, hingga minimnya peran ayah dalam pengasuhan menjadi persoalan nyata yang membutuhkan perhatian bersama.
Berangkat dari kondisi tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Generasi Berencana (GenRe) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) se-Maluku dengan mengusung tema “Mendengar dan Didengar”.
Rakor yang berlangsung secara daring itu menjadi momentum untuk membangkitkan kembali gerakan remaja yang lebih aktif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, S.Si., M.Sc., MSE, menegaskan bahwa pemerintah tidak cukup hanya menghadirkan program, tetapi juga harus benar-benar mendengar suara remaja agar kebijakan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kami ingin mendengar langsung tantangan yang dihadapi teman-teman GenRe dan PIK-R di daerah agar kita dapat mencari solusi bersama dan menghidupkan kembali gerakan GenRe di Maluku,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Edi, remaja merupakan aset strategis pembangunan karena lebih dari seperempat penduduk Maluku berasal dari Generasi Z yang dalam beberapa tahun ke depan akan memasuki usia produktif dan membangun keluarga.
Di sisi lain, Maluku juga mulai menghadapi fenomena meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Kondisi ini berpotensi melahirkan sandwich generation, yakni generasi yang harus menopang kebutuhan keluarga sekaligus merawat orang tua.
Karena itu, pembinaan remaja sejak dini menjadi investasi penting bagi masa depan daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Edi juga memperkenalkan transformasi BKKBN menjadi Kemendukbangga melalui filosofi identitas Flower, Bee, Honey.
Flower melambangkan masa pertumbuhan dan pembentukan karakter, Bee menggambarkan semangat berkarya dan memberi manfaat, sedangkan Honey menjadi simbol hasil positif yang dapat dirasakan masyarakat.
“GenRe harus menjadi tempat lahirnya remaja yang tidak hanya berkembang, tetapi juga mampu menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi lingkungannya,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa tantangan remaja saat ini semakin kompleks. Selain persoalan kesehatan reproduksi, mereka juga menghadapi ancaman kecanduan media sosial, paparan konten negatif, perjudian daring, hingga meningkatnya masalah kesehatan mental.
Karena itu, Forum GenRe dan PIK-R diharapkan berkembang menjadi ruang aman (safe space) bagi remaja untuk berbagi pengalaman, memperoleh informasi yang benar, serta mendapatkan pendampingan melalui pendidik sebaya dan konselor sebaya.
“Pendekatan teman sebaya terbukti lebih efektif karena remaja cenderung lebih terbuka saat berbicara dengan teman seusianya,” jelasnya.
Selain memperkuat kelembagaan GenRe dan PIK-R, rakor juga menjadi ajang sosialisasi berbagai program prioritas Kemendukbangga, seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), layanan konseling Halo Remaja, Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), serta Lansia Berdaya (Sidaya).
Melalui program-program tersebut, GenRe diharapkan mampu memperluas edukasi mengenai kesehatan reproduksi, kependudukan, pembangunan keluarga, hingga pencegahan stunting.
Menutup arahannya, Edi mengajak seluruh pengurus GenRe, PIK-R, dan alumni GenRe di Maluku untuk menghidupkan kembali semangat kolaborasi melalui aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan remaja.
“Tahun 2026 harus menjadi awal kebangkitan Gerakan GenRe di Maluku. Bukan hanya aktif saat pemilihan duta, tetapi hadir sebagai komunitas yang terus mengedukasi, menginspirasi, dan mendampingi remaja menghadapi tantangan zaman. Ketika GenRe bergerak, kita sedang menyiapkan generasi yang sehat, tangguh, dan siap membangun keluarga berkualitas di masa depan,” pungkasnya.