AMBON,N25NEWS.id-Maluku harus bangga karena miliki begitu banyak budaya daerah,salah satunya musik tradisional seperti ukulele yang dikembangkan di Desa Amahusu Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon.
Hal ini disampaikan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Richard Tampubolon,dalam sambutannya pada acara “Badendang” bersama Pangdam XVI/ Pattimura dengan Sanggar Booyratan,Amboina Ukulele Kids Community (AUKC) dan Lebebae Community,di Desa Amahusu,Selasa (12/7/2022).
Menurutnya budaya lokal yang dikemas secara kekinian oleh sanggar AUKC dan Booyratan serta Lebebae Community yang peduli terhadap lingkungan merupakan kekayaan yang harus dipegang teguh.
Selain itu,karena budaya Maluku yang menjadi warisan leluhur ini,telah melahirkan seniman dan musisi-musisi terkenal di nasional bahkan internasional,salah satunya seperti seniman legendaris Zeth Lekatompessy.
“Kami dari Kodam XVI/ Pattimura memiliki program yakni “Mutiara Pattimura”,dimana kami memberikan pendampingan-pendampingan, khususnya bidang budaya dalam bentuk karakter bangsa,”kata Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Richard Tampubolon.
Adapun,kata Pangdam posisi negeri Amahusu yang dikelilingi oleh bentangan alam yang sangat indah yang diapit oleh gunung Nona,serta berada di pesisir pantai Teluk Ambon,dimana kondisi ini menjadi berkat dan karunia dari Tuhan yang maha kuasa yang harus dijaga dan dilestarikan sebagai warisan alam dan budaya untuk generasi yang akan datang.
“Generasi di Amahusu sekarang generasi ke-4, semoga generasi ke-4 dan generasi selanjutnya tetap memegang teguh warisan budaya ini.Sebab kita generasi ke-4 ini sudah banyak yang sukses,”ujar Pangdam.
Pangdam juga mencontohkan negara-negara maju yang perkembangan teknolognya maju pesat,tetapi tetap memegang teguh budaya mereka, karena bagi mereka budaya sangat penting untuk pembentukan karakter suatu bangsa.
“Saya mengambil contoh negara-negara maju seperti China dan Korea Selatan yang tetap memegang teguh warisan budaya.Sebab bagi mereka budaya adalah kekayaan untuk kemajuan peradaban bangsa,”paparnya.
“Karena budaya juga selalu bersatu dalam kebinekaan, walaupun berbeda-beda tapi kita tetap satu,”ucap Pangdam.
Dikesempatan yang sama, Founder AUKC, Nicho Tulalessy mengatakan ada banyak hal yang komunitas Ukulele ini lakukan untuk daerah ini (Maluku) dan dengan jiwa membangun Maluku serta dengan musik Ukulele komunitas ini bisa berkontribusi bagi Maluku Bangsa dan Negara.
“Dengan jiwa membangun Maluku,saya sampaikan buat anak-anak AUKC bahwa bela negara itu bukan hanya menjadi dokter,pegawai atau TNI-Polri,tetapi dengan musik Ukulele kita bisa membangun daerah dan tidak terpengaruh dengan pergaulan yang negatif,”ujar Nicho Tulalessy.
Sedangan Kezia Tulalessy yang adalah Founder Lebebae Community mengatakan,selain komunitas ini bermain Ukulele,namun juga peduli terhadap lingkungan dan membersikan pantai dari berbagai sampah.
“Kami juga sangat peduli dengan terumbuh karang di laut,olenya kami minta dukungan dari semua pihak yang berkepentingan untuk membantu kebersihan di Amahusu,”jelasnya.
Sementara itu,Pimpinan Sanggar Booyratan,Yonas Silooy mengatakan Sanggar Booyratan bediri pada situasi kerusuhan di Ambon,namun Sanggar ini sangat beragam ada Kristen dan Islam,karena itu Sanggar ini bernama Booyratan yakni untuk kumpul basudara gandong.
“Untuk itu,saya berharap tetap menjaga keharmonisan tidak ada perbedaan antar agama (Islam Kristen) dulu kita terkotak-kotak,tapi sekarang kita kumpul jadi satu dalam persaudaraan,”tandasnya.