Sakralnya Cakalele “Hahi” Negeri Hulaliu Warnai Peringatan Hari Pattimura 15 Mei

by -9 views
by

Hulaliu,N25NEWS.id – Suasana sakral dan penuh semangat perjuangan mewarnai peringatan Hari Pattimura 15 Mei di Negeri Hulaliu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Jumat (15/5).

Salah satu tradisi budaya yang paling menyita perhatian masyarakat adalah atraksi Cakalele “Hahi”, sebuah ritual adat yang sarat makna spiritual, keberanian dan penghormatan kepada leluhur.

Tarian Cakalele Hahi merupakan atraksi adat yang menampilkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam seperti parang, pisau hingga tombak. Ritual ini tidak hanya menjadi pertunjukan budaya, tetapi juga simbol persatuan masyarakat serta penghormatan terhadap warisan perjuangan leluhur Maluku.

Para peserta Cakalele tampil mengenakan pakaian serba merah menyala yang melambangkan keberanian, ketangguhan dan heroisme. Kain merah yang terikat di kepala, celana merah, serta parang dan tombak yang digenggam di tangan semakin mempertegas aura perjuangan dalam ritual tersebut.

Irama pukulan tifa dan bunyi tahuri menggema di seluruh negeri, membakar semangat para pemuda yang terlibat dalam atraksi sakral itu. Teriakan histeris para peserta menambah suasana magis selama prosesi berlangsung.

Atraksi ini terlihat ekstrem di mata masyarakat yang menyaksikan. Para peserta tampak mengiris tangan, melukai tubuh bahkan memotong lidah menggunakan benda tajam tanpa merasakan sakit sedikit pun. Pemandangan tersebut membuat warga yang menonton histeris sekaligus takjub.

Sebelum atraksi dimulai, tiga Kepala Soa atau mata rumah yakni Taihuttu, Siahaya dan Noya terlebih dahulu melakukan ritual “Palamana” dalam bahasa Hulaliu.

Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan doa kepada Tuhan dan para leluhur sebelum mengambil air dari parigi negeri.

Masing-masing kepala soa kemudian membawa air tersebut ke rumah soa masing-masing untuk digunakan menyiram luka sayatan dan membasuh tubuh para peserta Cakalele.

Prosesi adat dimulai saat api obor diambil dari Marsalah oleh keluarga Matulessy. Obor tersebut kemudian dibawa menuju Soa Noya sambil diiringi tarian Cakalele.

Setelah itu, keluarga Matulessy dan Noya berjalan menuju Soa Siahaya dengan tetap melakukan tarian adat Cakalele.

Ketiga keluarga besar kemudian bersama-sama menuju baileo Negeri Hulaliu untuk menyerahkan obor kepada raja negeri yang selanjutnya digunakan dalam prosesi pembakaran obor Pattimura.

Puncak ritual ditandai dengan atraksi Cakalele bersama di depan baileo Negeri Hulaliu yang berlangsung penuh semangat dan sakral.

Tradisi adat tersebut menjadi bukti bahwa semangat perjuangan Kapitan Pattimura masih terus hidup dalam budaya dan kehidupan masyarakat Maluku hingga saat ini.

Penulis : Ika

Editor   : Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *