AMBON, N25NEWS.id – Setelah terpisah selama puluhan tahun akibat konflik sosial Maluku 1999, keluarga besar Persekutuan Anak-Anak Asrama Brimob Tantui atau Persekutuan Anak-Anak 48 Tantui akhirnya kembali dipersatukan dalam sebuah reuni akbar yang penuh haru dan sukacita di Pantai Tial, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (11/7/2026).
Pertemuan yang telah lama dinantikan itu bukan sekadar ajang melepas rindu, tetapi menjadi simbol bangkitnya kembali semangat persaudaraan, rekonsiliasi, dan kebersamaan yang pernah terjalin erat di lingkungan Asrama Brimob Tantui sebelum konflik sosial memisahkan mereka.
Peserta reuni datang dari berbagai daerah di Maluku hingga luar daerah. Mereka membawa satu harapan yang sama, yakni memperkuat kembali ikatan kekeluargaan yang tidak pernah hilang meski terpisah oleh waktu, jarak, dan dinamika kehidupan.
Ketua Panitia, Hendrik Lewaherila, mengatakan reuni tersebut menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai persatuan yang telah diwariskan sejak mereka tumbuh bersama di Asrama Brimob Tantui.
“Sudah cukup lama kita berpisah. Ada yang merantau, ada yang tinggal di berbagai daerah. Melalui persekutuan ini kita kembali dipersatukan dalam suasana penuh sukacita,” katanya.
Ia bersyukur seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik berkat penyertaan Tuhan, kerja keras panitia, dukungan para senior, donatur, serta seluruh keluarga besar Anak-Anak 48 Tantui.
Menurut Hendrik, perbedaan suku, agama, bahasa, maupun latar belakang bukanlah penghalang untuk terus menjaga hubungan sebagai satu keluarga besar.
“Walaupun berbeda suku, bahasa, maupun agama, kita tetap satu keluarga. Melalui kebersamaan ini kita belajar saling mengasihi, saling menghargai, dan terus membangun karakter yang baik,” ujarnya.
Ia berharap reuni tersebut tidak berhenti sebagai agenda nostalgia semata, tetapi menjadi ruang membangun komunikasi antargenerasi, mengembangkan potensi anak-anak muda, sekaligus memperkuat nilai toleransi yang selama ini menjadi identitas masyarakat Maluku.
Di akhir sambutannya, Hendrik Lewaherila menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan. Ia kemudian menutup sambutannya dengan falsafah hidup masyarakat Maluku, “Ale rasa, beta rasa; potong di kuku, rasa di daging,” sebagai pengingat bahwa suka dan duka harus dipikul bersama.
Reuni Akbar Anak-Anak 48 Tantui menjadi bukti bahwa luka masa lalu tidak memutus tali persaudaraan. Sebaliknya, kebersamaan yang kembali terjalin menjadi pesan kuat bahwa perdamaian harus terus dirawat melalui kasih, toleransi, dan solidaritas antarsesama.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan sosial saat ini, semangat yang ditunjukkan keluarga besar Anak-Anak 48 Tantui menjadi inspirasi bahwa persatuan merupakan kekuatan utama dalam menjaga Maluku tetap damai, harmonis, dan menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat.
Penulis : Stenly Kailuhu
Editor : Redaksi