SBB, N25NEWS.id – Pesan keamanan dan perlindungan anak disampaikan Wakapolres Seram Bagian Barat (SBB) KOMPOL Pieter F. Matahelumual, S.H., M.H., saat mengikuti ibadah bersama Jemaat GPM Sarihalawane di Gedung Gereja Lahairoi, Desa Waisarissa, Kecamatan Kairatu Barat, Minggu (27/9/2026).
Kehadiran Wakapolres dalam kegiatan Minggu Kasih tersebut menjadi bagian dari upaya Polres SBB membangun komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas melalui ruang keagamaan.
Kapolres SBB AKBP Refindo Pradikta Rulando, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A., mengatakan Minggu Kasih merupakan kegiatan rutin Polres SBB yang dilaksanakan selain program Jumat Berkah.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana silaturahmi, tetapi juga bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat melalui jajaran PJU, Kapolsek dan Bhabinkamtibmas.
Dalam penyampaiannya, Wakapolres mengajak jemaat untuk menjaga perkataan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ucapan seharusnya menjadi sarana membangun hubungan, memberikan sukacita dan mempererat persaudaraan, bukan menjadi sumber konflik.
Perhatian khusus juga diberikan terhadap peran orang tua dalam mendampingi anak.
Wakapolres mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas anak, termasuk mendampingi mereka ketika belajar dan memastikan lingkungan pergaulan tetap memberikan pengaruh positif.
Pesan tersebut disampaikan seiring masih adanya perkara kekerasan seksual terhadap anak yang menjadi perhatian di wilayah hukum Polres SBB.
Wakapolres menegaskan, perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga.
“Anak-anak adalah generasi penerus. Karena itu, perlindungan terhadap mereka bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama.”
Karena itu, keluarga, Gereja dan masyarakat diharapkan mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Selain persoalan perlindungan anak, jemaat juga diajak menjaga situasi Kamtibmas dengan membangun komunikasi dan segera berkoordinasi dengan Kepolisian apabila menemukan persoalan yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban.
Pesan Wakapolres kemudian disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian masyarakat Maluku. Ia mengingatkan jemaat agar tidak merasa lebih tinggi ketika memiliki kelebihan.
“Jika suatu saat katong menjadi orang hebat, jangan pernah merasa hebat. Karena walaupun katong itu hebat, belum tentu katong itu hebat.”
Ia juga mengajak jemaat menggunakan perkataan untuk menghadirkan sukacita.
“Biarlah mulut menyampaikan sukacita, jangan caci maki dan sumpah serapah.”
Pesan persaudaraan pun turut ditekankan melalui ungkapan khas Maluku, di antaranya:
“Jang mangiri, jang saki hati deng orang pung kelebihan.”
“Kalo mabo, jang bodo. Kalo bodo, jang mabo.”
Serta:“Hidop orang basudara itu harus baku keku, jang baku kuku.”
Kapolres SBB mengapresiasi keterlibatan Wakapolres dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran pimpinan Polres secara langsung di tengah masyarakat merupakan bagian dari keteladanan dalam menjalankan tugas pelayanan.
Ia berharap kegiatan Minggu Kasih tidak berhenti sebagai agenda rutin, tetapi menjadi ruang komunikasi yang terus memperkuat hubungan antara Kepolisian, Gereja dan masyarakat.
“Semoga kegiatan ini dapat memberikan pesan dan pengingat bagi seluruh jemaat untuk terus menjaga kerukunan, toleransi dan persaudaraan sebagai orang basudara di Bumi Saka Mese Nusa,” ujar Kapolres.
Editor : Ogen Pesireron