AMBON, N25NEWS.id – Setelah sukses menghadirkan kebanggaan bagi masyarakat Maluku Utara melalui klub Liga 1 Malut United, kini pendiri sekaligus pemilik klub, David Glen, kembali membuat gebrakan.
Kali ini bukan sekadar membangun tim sepak bola profesional, melainkan membuka jalan masa depan bagi anak-anak yatim piatu dan keluarga kurang mampu melalui Akademi Sepak Bola Merah Putih di Ternate yang mengusung standar pembinaan Eropa.
Bagi David Glen, sepak bola bukan hanya soal pertandingan dan hiburan. Olahraga ini diyakininya sebagai jalan keluar dari kemiskinan sekaligus sarana mencetak generasi muda yang memiliki masa depan lebih baik.
Direktur Utama PT Malut Maju Sejahtera, Dirk Soplanit, mengatakan lahirnya akademi tersebut merupakan wujud nyata kepedulian sosial sang owner.
“Kalau Malut United memberikan hiburan dan kebanggaan kepada masyarakat Maluku Utara, maka Akademi Sepak Bola Merah Putih hadir untuk mengubah kehidupan anak-anak yang kurang beruntung,” ujarnya.
Menurut Dirk, David Glen melihat masih banyak anak-anak berbakat yang kehilangan kesempatan karena keterbatasan ekonomi. Karena itu, akademi ini didirikan sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan mereka.
Keseriusan proyek ini dibuktikan dengan kerja sama resmi bersama akademi usia dini milik S.L. Benfica, salah satu klub yang dikenal sebagai penghasil pemain-pemain kelas dunia.
Penandatanganan kerja sama dilakukan pada 16 Mei 2026, disaksikan langsung oleh dua perwakilan Benfica yang datang ke Ternate.
Melalui kerja sama tersebut, seluruh sistem pembinaan akan mengikuti standar Eropa, mulai dari metode latihan, pengembangan teknik, pembentukan karakter, hingga pola makan bergizi yang disusun untuk menunjang perkembangan fisik anak.
“Anak-anak tidak hanya diajarkan bermain bola, tetapi juga dibentuk dengan sistem pembinaan modern seperti yang diterapkan di Eropa,” kata Dirk.
Akademi ini akan memprioritaskan anak-anak berusia 7 hingga 9 tahun, khususnya yatim piatu dan mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Tahap pertama akan merekrut sekitar 75 anak, namun jumlah tersebut berpotensi meningkat menjadi 150 hingga 200 peserta.
Keputusan menambah kuota muncul setelah tim Benfica menyampaikan pengalaman mereka bahwa dari 100 anak yang dibina, biasanya hanya sekitar satu persen yang benar-benar mampu menembus level pemain elite. Karena itu, semakin banyak anak yang dibina, semakin besar peluang melahirkan pesepak bola profesional.
Menariknya, akademi ini tidak hanya fokus pada sepak bola. Seluruh peserta juga akan memperoleh pendidikan formal dengan kurikulum yang disesuaikan serta tinggal di asrama sehingga pembinaan berlangsung secara menyeluruh.
Tim Benfica berharap akademi ini tidak hanya melahirkan pemain yang sukses di kompetisi nasional, tetapi juga mampu menembus panggung sepak bola internasional.
David Glen pun memiliki mimpi besar agar anak-anak dari keluarga sederhana di Maluku Utara dapat mengubah nasib melalui sepak bola.
Menurut Dirk, inilah alasan mengapa David Glen lebih memilih membangun akademi daripada hanya berfokus mengelola klub profesional.
“Kalau klub hanya memberi hiburan kepada masyarakat, akademi bisa mengangkat derajat hidup anak-anak yatim piatu dan keluarga miskin,” tegasnya.
Dirk juga menyinggung keputusan Malut United yang kini bermarkas di Jawa Timur. Menurutnya, langkah tersebut diambil agar pengelolaan klub profesional dan pembangunan akademi dapat berjalan maksimal tanpa membebani manajemen.
Dengan fokus baru tersebut, David Glen berharap Akademi Sepak Bola Merah Putih menjadi warisan terbesar yang bukan hanya menghasilkan pemain sepak bola, tetapi juga mengubah kehidupan ratusan anak Indonesia.
Jika cita-cita itu terwujud, maka Ternate bukan hanya akan dikenal sebagai rumah Malut United, melainkan juga sebagai tempat lahirnya talenta-talenta sepak bola Indonesia yang mampu bersaing hingga level dunia.
Penulis : Santos Walalayo
Editor : Redaksi