AMBON,N25NEWS.id-Kota Ambon tengah menghadapi tantangan besar sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan pelayanan publik di Provinsi Maluku.
Tingginya laju urbanisasi yang terus terjadi dinilai menjadi salah satu persoalan strategis yang membutuhkan kebijakan publik berbasis data serta percepatan pembangunan konsep Smart City.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Ambon, Ronald Lekransy, saat menjadi narasumber dalam Diskusi Panel bertema “Birokrasi dan Kebijakan Publik Berbasis Kepulauan” yang digelar Laboratorium Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura (Unpatti), Kamis (18/6/2026).
Menurut Lekransy, status Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku menjadikan kota ini magnet utama perpindahan penduduk dari berbagai kabupaten dan kota. Arus urbanisasi yang tinggi membawa dampak langsung terhadap penyediaan layanan publik dan pembangunan perkotaan.
“Ambon menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan pelayanan publik. Konsekuensinya, tingkat urbanisasi cukup tinggi dan berdampak pada meningkatnya kebutuhan layanan dasar serta berbagai tantangan pembangunan kota,” ujarnya.
Data Pemerintah Kota Ambon menunjukkan jumlah penduduk saat ini mencapai sekitar 360.919 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 5,6 persen per tahun. Angka tersebut menempatkan Ambon pada posisi yang membutuhkan perencanaan pembangunan yang lebih presisi dan berbasis data.
Lekransy mengungkapkan, salah satu dampak paling nyata dari pertumbuhan penduduk adalah meningkatnya tekanan terhadap infrastruktur dasar.
Mulai dari kebutuhan air bersih, listrik, drainase, jalan, hingga pengelolaan sampah yang terus bertambah setiap tahun.
Saat ini, produksi sampah di Kota Ambon mencapai sekitar 256,41 ton per hari, sementara kapasitas penanganan baru sekitar 185,5 ton per hari.
“Jika urbanisasi terus meningkat tanpa pengelolaan yang baik, volume sampah dapat meningkat hingga 300 sampai 400 ton per hari. Ini menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi sejak sekarang,” jelasnya.
Selain persoalan sampah, pertumbuhan penduduk juga berpotensi memicu kepadatan permukiman, munculnya kawasan kumuh, hingga penyimpangan tata ruang yang dapat menghambat pembangunan kota yang berkelanjutan.
Urbanisasi juga memberikan tekanan besar pada sektor kesehatan dan pendidikan. Meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan antrean layanan kesehatan semakin panjang dan kebutuhan tenaga medis serta fasilitas kesehatan terus bertambah.
Di sektor pendidikan, pemerintah dihadapkan pada kebutuhan pembangunan ruang kelas baru, penambahan tenaga pendidik, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.
“Pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pendidikan agar masyarakat tetap mendapatkan pelayanan yang optimal,” kata Lekransy.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah akurasi data kependudukan.Tingginya mobilitas warga menyebabkan perubahan jumlah penduduk berlangsung sangat dinamis sehingga pemerintah sering menghadapi tantangan dalam memperoleh data riil sebagai dasar perencanaan pembangunan.
Menurut Lekransy, tanpa data yang akurat, pemerintah akan kesulitan menyusun kebijakan yang tepat sasaran.
“Pemerintah harus memiliki sistem data yang kuat dan terintegrasi. Data menjadi fondasi utama dalam merumuskan kebijakan publik yang efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Pemerintah Kota Ambon melihat urbanisasi bukan semata-mata sebagai ancaman, tetapi juga peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang lebih modern.
Karena itu, Pemkot Ambon terus memperkuat sistem pelayanan publik berbasis digital, mempercepat implementasi konsep Smart City, serta mengembangkan kawasan pertumbuhan baru guna mengurangi beban aktivitas yang terpusat di jantung kota.
Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, meningkatkan kualitas pelayanan publik, sekaligus menjawab berbagai persoalan perkotaan yang muncul akibat pertumbuhan penduduk yang semakin pesat.
Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi, Ambon diproyeksikan tidak hanya mampu mengatasi tantangan urbanisasi, tetapi juga berkembang menjadi kota cerdas yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.(**)