PATAHUWE,N25NEWS.id – Pemulihan masyarakat Desa Patahuwe, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, mulai memasuki tahap baru. Setelah warga menghadapi masa sulit akibat peristiwa yang menyebabkan puluhan rumah terbakar dan masyarakat harus mengungsi, kini pembangunan kembali mulai dilakukan.
Harapan itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Pastori Jemaat GPM Patahuwe dan rumah bantuan bagi masyarakat terdampak, yang berlangsung di Gedung Gereja Imanuel Desa Patahuwe, Minggu (20/9/2026).
Bagi masyarakat Patahuwe, pembangunan tersebut bukan sekadar mendirikan bangunan baru. Rumah menjadi bagian dari upaya mengembalikan kehidupan warga, sementara rasa aman dan persatuan menjadi fondasi agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.
Kapolres Seram Bagian Barat AKBP Refindo Pradipta Rulando menegaskan, TNI-Polri akan terus mengambil bagian dalam mengawal keamanan sekaligus mendukung proses pemulihan masyarakat.
“Ini bukan hanya soal membangun rumah, tetapi bagaimana kita bersama-sama membantu masyarakat untuk bangkit dan kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman. TNI-Polri akan terus hadir bersama pemerintah, Gereja dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Refindo.
Kapolres juga mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga hubungan sosial masyarakat.
Menurutnya, situasi keamanan yang mulai kondusif harus dipertahankan bersama. Setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat diharapkan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan cara-cara damai.
“Kalau ada persoalan, mari kita bicarakan dan selesaikan dengan baik. Jangan mudah terprovokasi dan jangan mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Mari kita jaga keamanan ini bersama-sama,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting dalam proses pemulihan Patahuwe. Sebab, setelah kehilangan tempat tinggal dan menghadapi trauma, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kehidupan dapat kembali berjalan tanpa rasa takut.
Karena itu, sinergi pemerintah, TNI-Polri, Gereja, tokoh masyarakat dan warga menjadi bagian penting untuk memastikan proses pemulihan tidak berhenti pada pembangunan rumah, tetapi juga membangun kembali kepercayaan dan kebersamaan.
Refindo menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat, Sinode GPM, TNI, serta seluruh pihak yang telah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat terdampak.
“Sinergitas seperti ini yang harus terus kita bangun. Pemerintah, TNI-Polri, Gereja, tokoh masyarakat dan seluruh warga harus berjalan bersama. Dengan kebersamaan, proses pemulihan dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Peletakan batu pertama dilakukan secara bersama oleh Wakil Ketua I MPH Sinode GPM Pdt. Ricardo Andriosa Rikumahu, M.Th., perwakilan Gubernur Maluku, Bupati SBB Ir. Asri Arman, M.T., Kapolres SBB AKBP Refindo Pradipta Rulando, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A., Dandim 1513/SBB Letkol Inf. Arh. Jaka Putra Dinda, S.H., M.Han., Wakil Bupati SBB Selfinus Kainama, S.Pd., serta Anggota DPRD Provinsi Maluku.
Turut hadir Wakapolres SBB Kompol Pieter Matahelumual, S.H., M.H., Ketua TP PKK Kabupaten SBB Ny. Yeni Rosbayani Asri, Danyon TP 865 Letkol Inf. Muhammad Joko Chandra Suseno, pimpinan OPD Kabupaten SBB, Forkopimcam Taniwel dan Taniwel Timur, para pimpinan Gereja, Kepala Desa Patahuwe Abdon Latue, serta masyarakat Desa Patahuwe.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan Patahuwe membutuhkan kerja bersama.
Kini, pembangunan rumah menjadi simbol dimulainya kembali kehidupan masyarakat.
Namun, tantangan yang lebih besar adalah memastikan masyarakat dapat kembali hidup berdampingan, menjaga komunikasi, menolak provokasi dan merawat perdamaian.
Dari rumah yang dibangun kembali, Patahuwe diharapkan tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga bangkit dengan persatuan dan rasa aman yang lebih kuat.