AMBON,N25NEWS.id-Konflik yang terjadi di beberapa wilayah Maluku belakangan ini menjadi perhatian serius. Perselisihan yang melibatkan warga di Kecamatan Salahutu antara Tial dan Tulehu, serta di Seram Utara antara Sawai, Rumaholat, dan Masihulan,seakan menjadi bencana maha dahsyat yang menghancurkan tatanan kehidupan orang basudara di Maluku,negeri raja-raja.
Nicho Tulalessy Ketua Ambon Sealing Community (ASC) Koordinator Mollucan Jukulele Leaders (MJL),angkat bicara dan dirinya mengakui sedih.Pasalnya,kedamaian yang merupakan jati diri orang Maluku tercoreng dengan adanya konflik, yang dihiasi dengan saling serang,bakar (rumah) dan saling membunuh.
“Bagi saya konflik yang terjadi,sangat memalukan kita semua.Dimana,telah mencoreng tradisi kita orang Maluku,yang memiliki rasa persaudaraan tinggi dan hubungan pela-gandong,”ujar Tulalessy kepada N25NEWS,di Ambon,Sabtu (5/4/2025).
Dikatakan, konflik yang terjadi di atas,jangan dibiarkan terus berlanjut.Pasalnya jika dibiarkan,ini akan menjadi tradisi negatif bagi generasi Maluku berikutnya,dan tentu sebuah budaya yang mengalami kemunduran.
Padahal jika flash back kehidupan orang tatua Maluku sungguh luar biasa persaudaraan yang dibingkai dengan tradisi pela-gandong.Selain itu,persaudaraan salam-sarane antar kampong (kampung), yang bukan hanya ada dalam lantunan lagu-lagu Ambon,tetapi juga persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
“Namun,angat di sayangkan akhir-akhir ini budaya hidop orang sudara tercederai dengan konflik yang akar permasalahannya hanya sepele.Jadi,jangan hal diatas menjadikan kita seperti suku bangsa yang barbar,”ujarnya.
“Jujur saya kecewa,kenapa masalah sepele harus diatasi dengan saling bakar, potong orang atau saling membunuh,bakar rumah ibadah,kita sudah seperti orang-orang yang sudah tidak bermoral lagi perilakunya,”tandasnya.
Oleh karena itu menurutnya, untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,tidak bisa lagi dengan pendekatan secara hukum.Sebab,bagi dia pendekatan secara hukum lemah buat orang Maluku.Mengapa ?,karena orang Maluku punya kearifan lokal,budaya yang merupakan jati diri orang Maluku.
“Kita melihat orang tua-tua itu ratusan tahun lalu sudah berjanji untuk jaga kampung ,dengan kampung gandong,kampung gandong dengan kampung pela,tidak boleh saling baku bunuh,saling baku sayang,baku jaga,bahkan tidak boleh menikah,”jelasnya.
“Dan itu kita pegang sampai sekarang,dan kita yang hidup di zaman modern ini bahkan tidak ada di perjanjian pada waktu itu,oleh para leluhur,tapi kita pegang janji itu sampai sekarang,”tambahnya.
Oleh karena itu sarannya untuk baik pemerintah, maupun tokoh-tokoh masyarakat,ini harus diselesaikan secara tradisi sebagai orang Maluku,yang sudah di petakan ini daerah-daerah yang rawan konflik.
“Nah disitulah, bagaimana kita maju ke mereka berbicara dengan tokoh-tokoh muda yang akan melanjutkan hidup orang basudara di Maluku kedepan.Supaya sadar disitu bisa angkat sumpah sebagai hidup orang sudara,disitu diikat dengan darah adat,dan ini akan menjadi turun-temurun pesan yang harus dilakukan sumpah,yang harus diteruskan ke anak cucu,sehingga kedepan tidak ada lagi dengar lagi kampung deng kampung baku bakar,serang,baku bunuh,”tegasnya.
Menurutnya lagi, kondisi sekarang kehidupan makin susah, orang Maluku harus berpikir lebih maju,mau membangun,tetapi bagimana daerah terus mengalami berbagai konflik,karena masih ada pemikiran yang sempit.
Olenya,yang sudah terjadi ini jangan ada lagi di besok-besok hari.Sekarang penataannya itu pendekatan budaya,tokoh-tokoh agama.Pemerintah daerah bisa melihat ini dan segera eksekusi.Danbtentu para pemuda harus siap mendukung,menjaga Maluku damai, berpikir bagaimana Maluku maju, ekonomi baik buat semua orang.
“Ini negeri yang kita cinta,milik salam-sarane,milik semua agama,ini pesan dari kita punya moyang-moyang untuk hidup baku sayang,jangan kita libas akan hilang hanya dengan hal-hal yang gara-gara sekelompok orang yang punya masalah libatkan antar kampong.Ini bukan hal yang baik untuk diteruskan ke anak-cucu,”tuturnya.
Karena itu, generasi sekarang ini harus mewarisi hal-hal yang positif, yang bisa diikuti oleh generasi yang berikutnya.”Sehingga saran saya bagaimana kita menyelesaikan ini dengan adat.Bahwa setiap daerah-daerah konflik yang kita lihat, bahwa ini rawan konflik bagaimana mengikat dong sebagai orang basudara,”paparnya.
Jadi, bukan mustahil untuk dilakukan,dolo-dolo orang tatua atur kampung A kampung B gandong,Kampong A Kampong B Pela bukan berarti generasi tidak bisa melakukan di zaman sekarang.Bahwa masyarakat bisa mengikat juga kampong yang baru juga sebagai orang basudara,yang diikat dengan sumpah sehingga,saling sayang dan saling melindungi.
“Kalau tidak kita tidak akan maju dan orang lain akan lebih maju dari pada kita,dan kita sadar lagi kita sudah hancur-hancuran di Maluku,”ujarnya.
Jadi sekarang marilah bantu pemerintah,bantu semua tokoh agama yang lagi berdoa,berjuang,semua menahan diri dan sikapi.Buat basudara yang sudah mengalami konflik sebagai anak Maluku turut bersedih, turut merasakan penderitaan dan kesedian yang sedang terjadi.
“Untuk itu,saya berharap pemerintah segera merekafi semua hal untuk basudara kita yang sedang mengungsi,karena rumah-rumahnya di bakar dan ada yang meninggal karena bentrokan yang terjadi di hari kemarin,”tandasnya.(**)