BKKBN Maluku Soroti Layanan Tamasya, Penitipan Anak Bagi Ibu Bekerja Perlu Diperluas

by
by
Exif_JPEG_420

AMBON,N25NEWS.id-Kebutuhan tempat penitipan anak yang aman dan terjangkau menjadi perhatian dalam pelaksanaan program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) yang digagas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Program ini diharapkan membantu orang tua, khususnya ibu bekerja, agar dapat menjalankan aktivitasnya tanpa mengabaikan pengasuhan anak.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, mengatakan masyarakat perlu mendapatkan manfaat nyata dari berbagai program pelayanan yang disediakan pemerintah.

Namun, pelaksanaan program tersebut masih perlu dioptimalkan, termasuk penyediaan layanan penitipan anak di daerah.

Menurut Setiawan, program BKKBN tidak hanya berfokus pada keluarga berencana, tetapi juga mencakup upaya meningkatkan kualitas keluarga melalui pendampingan, pemenuhan gizi, pengasuhan, dan pemberdayaan kelompok masyarakat.

“Program kita sudah dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, walaupun ada yang belum optimal,” katanya.

Selain Tamasya, BKKBN menjalankan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Gerakan Ayah Teladan Indonesia, serta program Lansia Berdaya. Berbagai program tersebut diarahkan untuk memperkuat peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak, mencegah stunting, dan meningkatkan kesejahteraan lanjut usia.

Akses layanan perlu menjangkau keluarga
Program Tamasya menjadi salah satu upaya untuk menjawab kebutuhan pengasuhan anak, terutama bagi keluarga yang kedua orang tuanya bekerja atau ibu yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan pengasuhan.

Ketersediaan tempat penitipan anak yang layak dapat membantu orang tua memperoleh dukungan pengasuhan, sekaligus memberikan lingkungan yang lebih aman bagi anak selama orang tua bekerja.

Karena itu, dukungan pemerintah daerah menjadi penting agar layanan pengasuhan dapat menjangkau lebih banyak keluarga sesuai kebutuhan di wilayah masing-masing.

Setiawan juga menjelaskan bahwa BKKBN melakukan intervensi gizi melalui program Makanan Bergizi Gratis (MBG), dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD atau kelompok 3B.

Intervensi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pemenuhan gizi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam periode penting pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pemeriksaan calon pengantin masih perlu didorong
Di sisi lain, Setiawan menyoroti pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin melalui aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil).

Ia menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikannya, baru sekitar 14 persen calon pengantin yang telah melakukan pemeriksaan kesehatan tersebut.

Angka ini menunjukkan perlunya peningkatan edukasi agar calon pengantin memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah, sebagai langkah awal mempersiapkan kehamilan yang sehat dan mengurangi risiko masalah kesehatan bagi ibu maupun anak.

Keterlibatan keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah diperlukan untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang manfaat pemeriksaan tersebut.

Jurnalis diajak ikut mengedukasi masyarakat
Setiawan turut mengajak insan pers untuk berperan aktif menyampaikan informasi dan mengedukasi masyarakat mengenai program-program pelayanan BKKBN.

Menurutnya, pemberitaan yang informatif dapat membantu masyarakat memahami layanan yang tersedia, mengetahui cara mengaksesnya, serta mendorong keluarga memanfaatkan program yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pada akhirnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan.

Masyarakat perlu mengetahui manfaatnya dan benar-benar dapat mengakses layanan tersebut.

Mulai dari dukungan pengasuhan bagi ibu bekerja, pemenuhan gizi ibu dan anak, hingga pemeriksaan kesehatan calon pengantin, pelayanan keluarga diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat di Maluku.(**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *