Melestarikan Jukulele Bukan Soal Jarak, Dari Abubu Nusalaut Anak-anak Jaga Musik Maluku Tetap Hidup

by
by

ABUBU, N25NEWS.id – Melestarikan musik tradisional tidak harus dimulai dari pusat kota. Di tengah keterbatasan jarak dan akses, anak-anak di pulau-pulau Maluku justru ikut menjaga agar musik khas daerahnya tetap hidup.

Semangat itu terlihat di Negeri Abubu, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, negeri yang dikenal sebagai tanah kelahiran pahlawan perempuan Maluku, Martha Christina Tiahahu.

Di negeri ini, anak-anak sekolah terus diperkenalkan dengan jukulele sebagai bagian dari ruang belajar, kreativitas dan kecintaan terhadap musik tradisional Maluku.

Semangat tersebut kemudian mendapat perhatian dari Moluccan Jukulele Leaders (MJL). Pada Sabtu (19/9/2026), Nicho Tulalessy bersama MJL melakukan kunjungan antar-pulau untuk bertemu langsung dengan komunitas jukulele di daerah tersebut.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda bertemu dan bermain musik.

MJL ingin membangun hubungan dengan komunitas-komunitas jukulele yang tumbuh di berbagai pelosok Maluku sekaligus melihat langsung bagaimana anak-anak daerah ikut mempertahankan keberadaan musik tradisional di tengah keterbatasan yang mereka miliki.

Salah satu ruang penting dalam menjaga keberlanjutan jukulele adalah sekolah.

Di SD Negeri 32 Maluku Tengah, aktivitas jukulele telah berjalan dan menjadi bagian dari ruang pengembangan bakat serta minat siswa di bidang musik.

Kepala SD Negeri 32 Maluku Tengah, Elsina Leleury, S.Pd.Gr, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Nicho Tulalessy bersama MJL.

Menurutnya, kehadiran MJL memberikan pengalaman sekaligus motivasi baru bagi para siswa untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan mereka.

“Terima kasih kepada Nicho Tulalessy bersama MJL yang sudah datang mengunjungi sekolah kami. Selain memberikan coaching clinic, anak-anak juga mendapatkan motivasi,” ujar Elsina.

Kegiatan kunjungan tersebut diisi dengan coaching clinic, berbagi teknik bermain jukulele serta interaksi langsung dengan para siswa.

Bagi anak-anak, pertemuan ini bukan hanya kesempatan belajar memainkan alat musik. Mereka juga mendapat kesempatan bertemu dengan pelaku jukulele dari komunitas yang lebih luas.

Elsina menjelaskan, keberadaan kegiatan jukulele di sekolahnya bermula ketika SD Negeri 32 Maluku Tengah ditunjuk sebagai Sekolah Penggerak pada 2022.

Dari program tersebut, sekolah mendapatkan dukungan yang kemudian dimanfaatkan untuk pengadaan alat musik jukulele.

Sejak saat itu, aktivitas jukulele terus berjalan hingga kini.

“Sejak sekolah kami ditunjuk sebagai Sekolah Penggerak pada tahun 2022, kemudian mendapat bantuan dan dilakukan pengadaan jukulele. Sampai sekarang aktivitas jukulele terus berjalan,” jelasnya.

Jukulele kemudian tidak hanya menjadi aktivitas tambahan, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, minat dan kreativitas di bidang musik.

Bagi Elsina, jarak sekolah dari ibu kota provinsi bukan alasan untuk berhenti menjaga musik tradisional.

Justru dari tempat-tempat yang jauh dari pusat kota, semangat pelestarian harus terus tumbuh.

“Walaupun kami berada jauh dari ibu kota provinsi, tekad dan kerja keras untuk melestarikan musik tradisional jukulele akan terus kami lakukan,” katanya.

Menurutnya, pelestarian juga membutuhkan hubungan antarkomunitas. Dengan saling bertemu, berbagi pengalaman dan memberikan dukungan, perkembangan jukulele dapat berjalan bersama.

“Melestarikan bukan soal jarak. Dengan jukulele kita bisa merajut kebersamaan, saling mendukung dan menopang dalam pengembangan jukulele,” ungkapnya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan jukulele di Maluku tidak hanya bertumpu pada komunitas di pusat kota.
Ia juga tumbuh di sekolah-sekolah dan komunitas yang berada di pulau-pulau, termasuk Nusalaut.

Kunjungan MJL ke Abubu dan komunitas jukulele di wilayah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring sekaligus memastikan komunitas di daerah tidak berjalan sendiri.

Sebab, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan memiliki alat musik.

Harus ada anak-anak yang mau belajar, guru yang terus mendampingi, komunitas yang saling menguatkan dan ruang bagi generasi muda untuk mengenal serta memainkan musik tersebut.

Dari sekolah dan komunitas di pulau-pulau, jukulele terus menemukan ruang untuk tumbuh.

Selama masih ada anak-anak yang mau memegang, memainkan dan belajar tentang jukulele, musik khas Maluku itu masih memiliki ruang untuk terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Editir : Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *