AMBON, N25NEWS.id – Minat anak-anak SD Negeri 84 Ambon terhadap musik jukulele terus tumbuh. Namun, semangat itu masih berhadapan dengan satu persoalan sederhana: keterbatasan alat musik yang tersedia di sekolah.
Roadshow Moluccan Jukulele Leader (MJL) bersama Nicho Tulalessy ke SD Negeri 84 Ambon, Jumat (12/9/2026) menjadi bagian dari upaya MJL mengonsolidasikan komunitas-komunitas jukulele, baik yang berdiri secara independen maupun yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan.
Bagi MJL, keberadaan komunitas jukulele di sekolah bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Lebih dari itu, komunitas tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal, memainkan, sekaligus ikut menjaga keberadaan jukulele sebagai salah satu alat musik tradisional yang berkembang di Maluku.
Salah satu anggota MJL, Deni Mailisa, mengatakan kunjungan ke komunitas jukulele di sekolah dilakukan untuk mempererat hubungan antarkomunitas sekaligus memberikan semangat agar komunitas terus tumbuh.
“Kami ingin mempererat hubungan antara komunitas satu dengan yang lain, memberikan semangat dan motivasi kepada komunitas-komunitas untuk terus tumbuh dan berkembang dalam bidang musik, terutama jukulele sebagai alat musik tradisional yang ada di Maluku,” ujar Deni.
Menurutnya, konsolidasi tersebut tidak akan berhenti di Ambon. MJL berkomitmen membangun kerja sama dengan komunitas-komunitas jukulele di berbagai daerah.
“Ke depan MJL akan terus meningkatkan kerja sama antarkomunitas jukulele, bukan saja di Ambon, tetapi di mana saja. Kita akan terus bersama berpartisipasi dalam membangun dan mengembangkan jukulele,” katanya.
Anak Berminat, Alat Musik Terbatas
Semangat yang sama terlihat di SD Negeri 84 Ambon. Guru SD Negeri 84 Ambon, Helti Paliama, mengaku bangga sekolahnya mendapat kunjungan dari MJL.
Menurut Helti, kehadiran MJL memberikan motivasi tersendiri bagi anak-anak yang selama ini aktif mengembangkan kemampuan bermain jukulele.
“Ini suatu kebanggaan bagi kami bisa dikunjungi Moluccan Jukulele Leader. Kehadiran mereka sangat luar biasa bagi anak-anak,” ungkap Helti.
Program tersebut juga sejalan dengan kegiatan jukulele yang telah berjalan di SD Negeri 84 Ambon setiap hari Sabtu. Anak-anak bahkan kerap tampil dalam berbagai ajang yang digelar.
Namun, perkembangan komunitas jukulele di sekolah masih terbentur keterbatasan alat musik.
Helti mengatakan minat anak-anak untuk belajar jukulele cukup tinggi, tetapi jumlah alat yang tersedia belum mampu mengimbangi banyaknya peminat.
“Banyak anak yang berminat bermain jukulele, tetapi kami terkendala alat musik,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap ada pihak-pihak yang tergerak membantu sekolah menyediakan tambahan alat musik jukulele.
Menurutnya, bantuan tersebut akan membuka kesempatan lebih besar bagi anak-anak untuk belajar dan mengembangkan kemampuan mereka.
“Harapan kami ada dermawan yang bisa menyumbangkan jukulele untuk sekolah, sehingga semakin banyak anak-anak yang bisa bermain dan mengembangkan kemampuan mereka,” harap Helti.
Persoalan keterbatasan alat ini menunjukkan bahwa menjaga musik tradisional tidak cukup hanya dengan mengajak anak-anak untuk mencintainya. Akses terhadap alat musik dan ruang untuk belajar juga menjadi bagian penting agar minat tersebut tidak berhenti sebagai sekadar ketertarikan.
Melalui konsolidasi komunitas dan kunjungan langsung ke sekolah, MJL berharap semakin banyak anak di Maluku memiliki kesempatan untuk mengenal, memainkan, dan meneruskan jukulele kepada generasi berikutnya.
Editor : Redaksi