AMBON, N25NEWS.id – Kemacetan atau kondisi padat merayap yang berulang pada jam-jam tertentu masih menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat Kota Ambon.
Antrean kendaraan terjadi ketika aktivitas warga meningkat, sementara sebagian besar kegiatan perkotaan masih terkonsentrasi pada kawasan pusat kota.
Kondisi ini dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengatur arus kendaraan. Dibutuhkan perubahan cara pandang dalam mengelola transportasi dan tata ruang kota.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Maluku, Fiqran M Yusuf, ST., MPWK., IAP, mengatakan konsentrasi aktivitas perkotaan pada satu titik menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap sistem transportasi.
“Ketika aktivitas perkotaan terkonsentrasi pada satu titik, mulai dari pemerintahan, ekonomi, pendidikan hingga pelayanan kesehatan, maka tekanan terhadap sistem transportasi akan semakin besar dan kemacetan menjadi persoalan yang sulit dihindari,” ujar Fiqran.
Menurutnya, persoalan tersebut membuat pergerakan masyarakat pada waktu-waktu tertentu menumpuk di jaringan jalan yang sama.
Fiqran menilai rekayasa lalu lintas tetap dibutuhkan untuk mengoptimalkan pergerakan kendaraan dan kapasitas jaringan jalan.
Namun, langkah tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai solusi jangka pendek.
“Rekayasa lalu lintas dapat menjadi solusi jangka pendek untuk mengoptimalkan pergerakan kendaraan dan kapasitas jaringan jalan. Namun, dalam jangka panjang, penyelesaian kemacetan harus dilakukan secara lebih komprehensif,” katanya.
Ia menyebut pengembangan transportasi massal yang berkelanjutan harus berjalan bersamaan dengan penataan struktur ruang Kota Ambon.
Dengan demikian, penyelesaian kemacetan tidak hanya berfokus pada kendaraan yang sedang terjebak dalam antrean, tetapi juga pada pola pergerakan masyarakat dan lokasi pusat-pusat aktivitas perkotaan.
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan, kata Fiqran, adalah weak centre strategy.
Konsep ini dilakukan dengan mengurangi dominasi pusat kota melalui pengembangan pusat-pusat pelayanan dan pertumbuhan baru di wilayah strategis.
“Pengembangan subpusat baru di wilayah strategis dapat menjadi alternatif lokasi bagi kegiatan pemerintahan, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik lainnya,” jelasnya.
Dengan munculnya subpusat tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pusat Kota Ambon untuk bekerja, bersekolah, mendapatkan pelayanan kesehatan maupun memenuhi kebutuhan lainnya.
Artinya, arus perjalanan masyarakat dapat tersebar ke lebih banyak kawasan sehingga tekanan terhadap pusat kota dapat dikurangi.
Fiqran menambahkan, pengembangan wilayah baru tidak boleh berjalan sendiri.
Kawasan-kawasan tersebut harus terhubung dengan sistem transportasi massal yang terintegrasi.
“Pengembangan wilayah baru yang terintegrasi dengan sistem transportasi massal diharapkan mampu mendistribusikan pergerakan, mengurangi beban pusat kota, serta menciptakan struktur ruang yang lebih seimbang dan efisien,” katanya.
Pendekatan tersebut, menurutnya, penting agar pengembangan kawasan baru tidak justru menciptakan pusat kemacetan baru.
Karena itu, perencanaan tata ruang dan transportasi perlu dilakukan secara bersamaan sejak awal, dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah Kota Ambon.
Fiqran berharap ke depan Kota Ambon terus berbenah melalui perencanaan transportasi dan tata ruang yang terintegrasi.
“Semoga ke depan Kota Ambon dapat terus berbenah melalui perencanaan transportasi dan tata ruang yang terintegrasi, sehingga persoalan kemacetan dapat ditangani secara tepat, berkelanjutan dan sesuai dengan karakteristik wilayahnya,” pungkasnya.
Persoalan kemacetan Ambon pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak kendaraan yang memenuhi jalan, tetapi juga tentang mengapa sebagian besar aktivitas masyarakat harus menuju titik yang sama.
Pertanyaan tersebut menjadi penting dalam mencari solusi jangka panjang agar masyarakat tidak terus kehilangan waktu di jalan setiap kali aktivitas kota mencapai puncaknya.
Editor : Redaksi