AMBON, N25NEWS.id – Ancaman terhadap kedaulatan bangsa kini tidak lagi selalu datang melalui agresi militer atau serangan bersenjata. Di era digital, Indonesia menghadapi tantangan baru berupa perang kognitif, yakni upaya sistematis untuk memengaruhi cara berpikir, persepsi, keyakinan, hingga ideologi masyarakat melalui ruang digital. Kondisi ini dinilai menjadi ancaman serius karena menyasar generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan.
Peringatan tersebut disampaikan Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, saat membuka Sosialisasi dan Diseminasi Pembinaan Kesadaran Bela Negara di Hotel Santika Ambon, Kamis (30/7/2026).
“Saat ini kita menghadapi fenomena perang multidimensi, termasuk perang kognitif, yaitu upaya sistematis untuk mempengaruhi cara berpikir, persepsi, keyakinan, emosi bahkan ideologi kita,” kata Bodewin.
Menurutnya, kemajuan teknologi informasi telah mengubah pola ancaman terhadap ketahanan negara. Jika sebelumnya ancaman lebih banyak berbentuk serangan fisik, kini perang berlangsung melalui penyebaran informasi yang menyesatkan, propaganda digital, manipulasi opini publik, hingga infiltrasi ideologi melalui media sosial.
Ia menilai ancaman tersebut semakin kompleks dengan maraknya ujaran kebencian, radikalisme, intoleransi, kecanduan gim daring, praktik pinjaman online dan judi online, serta derasnya arus hoaks yang dapat mengubah pola pikir masyarakat.
“Target utama dari berbagai ancaman ini adalah generasi muda. Karena itu, mereka harus dibekali kemampuan untuk berpikir kritis, memiliki literasi digital yang baik, mampu membedakan fakta dan opini, menolak hoaks, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” ujarnya.
Bodewin menegaskan, bela negara pada masa kini tidak lagi dimaknai semata-mata dengan mengangkat senjata. Semangat tersebut justru diwujudkan melalui kontribusi positif dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pelajar yang tekun belajar, mahasiswa yang menghasilkan inovasi, guru yang mendidik dengan keteladanan, pemuda yang menjaga persatuan, hingga masyarakat yang bijak menggunakan media sosial merupakan bagian dari implementasi bela negara di era modern.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai kearifan lokal Maluku, seperti Pela Gandong, hidop orang basudara, dan falsafah potong di kuku rasa di daging sebagai perekat persatuan.
“Nilai-nilai itu jangan hanya menjadi slogan. Harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku agar masyarakat Maluku tetap hidup dalam semangat persaudaraan dan selalu menempatkan persatuan di atas segala kepentingan,” katanya.
Selain memperkuat karakter kebangsaan, Bodewin mengajak generasi muda menjadi teladan dalam mengimplementasikan moderasi beragama. Menurut dia, keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat merupakan kekuatan Indonesia yang harus terus dirawat.
“Moderasi beragama mendorong kita untuk saling menghargai, menolak ekstremisme, menghindari ujaran kebencian, serta mengedepankan dialog dan persaudaraan,” ujarnya.
Bodewin juga mengingatkan bahwa Ambon pernah mengalami konflik sosial yang meninggalkan luka mendalam. Karena itu, perdamaian yang telah dibangun harus dipandang sebagai amanah yang wajib dijaga bersama, terutama oleh generasi muda.
Pemerintah Kota Ambon, lanjut dia, berkomitmen mendukung berbagai program pembinaan karakter dan pendidikan kesadaran bela negara sebagai investasi jangka panjang untuk melahirkan pemimpin yang berintegritas.
“Investasi terbaik hari ini adalah membentuk generasi muda yang berkarakter, memiliki integritas, serta siap mengabdikan seluruh kemampuan demi bangsa dan Negara Republik Indonesia,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi ancaman perang kognitif. Menurutnya, kemampuan menjaga akal sehat publik, menangkal hoaks, serta memperkuat persatuan bangsa merupakan bagian penting dari pertahanan negara di era digital.
Penulis :Kres
Editor : Redaksi