MJL Dorong Komunitas Jukulele Berani Eksplorasi, Hatuhena Voice Padukan Tahuri

by
by

AMBON, N25NEWS.id – Pelestarian musik tradisional Maluku tidak harus berhenti pada memainkan alat musik yang sama. Kreativitas komunitas menjadi bagian penting agar jukulele terus berkembang dan menarik bagi generasi muda.

Hal itu terlihat saat Moluccan Jukulele Leader (MJL) kembali melakukan kunjungan ke komunitas jukulele, kali ini menyambangi Jukulele Hatuhena Voice di kawasan Karpan, Ambon, 18 September 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Nicho Tulalessy dari MJL melihat Hatuhena Voice memiliki pendekatan yang sedikit berbeda. Selain jukulele, kelompok ini mulai melengkapi penampilan mereka dengan alat musik tradisional Maluku lainnya, salah satunya tahuri.

Perpaduan tersebut dinilai menjadi ruang bagi anak-anak untuk mendapatkan pengalaman bermusik yang lebih beragam sekaligus membuka inspirasi baru dalam mengembangkan penampilan kelompok.

Menurut Nicho, perkembangan komunitas jukulele tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memainkan alat musik, tetapi juga kemauan untuk terus mengembangkan performa dan mengeksplorasi instrumen pendukung.

Karena itu, MJL mendorong setiap grup jukulele untuk terus meng-upgrade penampilan, termasuk memperkaya penggunaan alat musik sehingga pertunjukan tidak monoton dan memiliki karakter masing-masing.

“Setiap grup harus terus mengembangkan performanya, termasuk alat musiknya,” ujar Nicho.

Ia juga memberikan perhatian terhadap keberadaan pelatih muda di Hatuhena Voice yang dinilai memiliki semangat tinggi untuk belajar sekaligus berbagi kemampuan bermusik kepada anak-anak lainnya.

Bagi MJL, keberadaan pelatih dan komunitas seperti ini penting karena pelestarian jukulele tidak hanya berlangsung melalui pertunjukan, tetapi juga melalui proses belajar yang terus berjalan di lingkungan komunitas.

Nicho juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang selama ini memberikan dukungan kepada anak-anak untuk bermain jukulele.

Dukungan keluarga, menurutnya, menjadi bagian penting agar anak-anak memiliki kesempatan untuk terus berlatih dan mengembangkan kemampuan mereka.

Sementara itu, Pelatih Jukulele Hatuhena Voice, Theofilio Glorio Lattu, menilai perjalanan komunitas tidak terlepas dari kerja keras dan kebersamaan.

Menurutnya, latihan jukulele mengajarkan anak-anak bahwa hasil yang baik membutuhkan proses yang dilakukan secara konsisten.

“Di jukulele ada kerja keras, ada kebersamaan. Kalau segala sesuatu dikerjakan dengan kerja keras, pasti hasilnya bagus,” tegas Theofilio.

Ia menyebut jika suatu saat Hatuhena Voice mampu meraih juara dalam sebuah kompetisi, prestasi tersebut bukan menjadi tujuan utama, melainkan bonus dari proses latihan yang telah dilakukan selama ini.

Bagi anak-anak Hatuhena Voice, kegiatan jukulele juga menjadi ruang untuk belajar bekerja sama, membangun kepercayaan diri dan mengembangkan kemampuan bermusik bersama.

Proses tersebut menunjukkan bahwa komunitas jukulele dapat menjadi ruang pendidikan nonformal bagi generasi muda, sekaligus tempat musik tradisional Maluku terus dipelajari dan dikembangkan.

MJL berharap dukungan terhadap komunitas-komunitas seperti Hatuhena Voice dapat terus tumbuh, termasuk melalui perhatian pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Provinsi Maluku.

Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya berbentuk kegiatan pertunjukan, tetapi juga membuka ruang pembinaan, pengembangan komunitas, penyediaan fasilitas serta kesempatan bagi anak-anak untuk terus belajar musik tradisional Maluku.

Sebab, menjaga jukulele tetap hidup bukan hanya soal mempertahankan alat musiknya, tetapi memastikan selalu ada anak-anak yang mau belajar, pelatih yang mau berbagi, komunitas yang mau berkembang, dan lingkungan yang mendukungnya.

Editor : Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *