Musik Jukulele Tampil di IPCC 2026 Yogyajarta

by
by

YOGYAKARTA, N25NEWS.id – Musik tradisional Maluku, jukulele, tampil bersama kekayaan musik tradisi Indonesia Timur dan budaya negara-negara kepulauan Pasifik dalam ajang Indonesia-Pacific Culture Connect (IPCC) di Yogyakarta. Kehadiran jukulele dalam kegiatan internasional ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas budaya Maluku sekaligus mempererat hubungan antarpelestari seni lintas negara.

Kegiatan residensi budaya tersebut berlangsung pada 6–15 Oktober 2026, dengan pentas puncak pada 14 Oktober dan penutupan pada 15 Oktober 2026. Program ini mempertemukan seniman dan peserta dari Indonesia serta sejumlah negara di kawasan Pasifik.

Ketua Moluccan Jukulele Leaders sekaligus pendiri Amboina Ukulele Kids Community, Nico Tulalessy, mengungkapkan kebanggaannya karena musik tradisional Maluku mendapat kesempatan tampil dalam forum internasional tersebut.

Menurut Nico, keikutsertaan ini bukan sekadar penampilan seni, tetapi juga ruang untuk membangun hubungan, bertukar pengetahuan, dan belajar bersama para pelestari budaya dari berbagai negara.

“Kami bangga bisa mewakili Maluku dalam ajang besar ini. Kegiatan ini menjadi wadah untuk menjalin hubungan yang baik antarsesama pelestari musik tradisional, saling bertukar informasi, dan belajar bersama tentang kekayaan musik khas Indonesia, termasuk gamelan,” ungkap Nico.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Nico adalah kesempatan memperkenalkan jukulele berbahan tempurung kelapa kepada peserta dari negara-negara kepulauan Pasifik.

Bagi komunitas pelestari jukulele Maluku, kesempatan ini penting untuk memperluas pengenalan alat musik tradisional kepada masyarakat internasional. Jukulele tidak hanya menjadi sarana bermusik, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi muda.

Pertemuan dengan seniman dari berbagai negara juga membuka peluang untuk saling mengenal tradisi musik, teknik berkarya, dan cara menjaga keberlangsungan budaya di tengah perubahan zaman.

Nico berharap kegiatan serupa tidak hanya berlangsung di luar Maluku. Ia mendorong agar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku mendapat kesempatan menjadi penyelenggara kegiatan internasional serupa pada masa mendatang.

“Harapan kami, ke depan Kementerian Kebudayaan dapat menjadikan BPK Wilayah XX Maluku sebagai penyelenggara kegiatan seperti ini, sehingga para peserta dari negara lain juga bisa datang langsung ke Maluku,” ujarnya.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan di Maluku akan membuka kesempatan bagi masyarakat setempat untuk memperkenalkan musik, tarian, kriya, serta berbagai tradisi lokal secara langsung kepada peserta internasional.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX, Dody Wiranto, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa Indonesia-Pacific Culture Connect merupakan program residensi budaya yang dirancang untuk mempererat hubungan Indonesia dan kawasan Pasifik melalui pertukaran seni, kolaborasi, serta pengalaman bersama.

Dody menyebutkan, kegiatan ini diikuti 47 peserta dari Fiji, Kepulauan Solomon, Kepulauan Marshall, Kaledonia Baru, Papua Nugini, Timor-Leste, Vanuatu, dan Indonesia.

Program residensi tersebut mencakup tiga kategori, yakni kriya, musik, dan tari. Peserta juga melibatkan mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta serta seniman lokal Yogyakarta.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta berkesempatan berbagi pengalaman dan mempelajari praktik seni dari latar belakang budaya yang berbeda. Pertukaran tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun pemahaman lintas budaya melalui karya dan pengalaman bersama.

Program ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, dan LPDP.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *