AMBON,N25NEWS.id – Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku menggelar kegiatan “Bacarita Santai tapi Intens tentang Program Pengelolaan Kependudukan” bersama Pengelola Program Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana kabupaten/kota dan PKB/PLKB/PPPK se-Provinsi Maluku secara virtual, yang dibuka oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, S.Si., M.Sc., MSE. (Rabu, 13/5).
Dalam arahannya, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku menyampaikan bahwa kegiatan “Bacarita Santai” menjadi ruang diskusi bersama antara BKKBN Provinsi Maluku dengan pengelola program di kabupaten/kota untuk menyatukan langkah dalam menghadapi tantangan kependudukan di Maluku.
“Ini memang sengaja dibuat tidak terlalu formal. Kita ingin teman-teman bidang Dalduk dan PKB/PLKB bisa langsung berdiskusi, memberikan masukan, dan bersama-sama memperkuat komitmen dalam mengelola masa depan penduduk Maluku,” ujarnya.
Ia mengatakan, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang baru diluncurkan Badan Pusat Statistik menjadi gambaran penting mengenai kondisi kependudukan Indonesia maupun Maluku saat ini.
“Data kependudukan itu bukan sekadar angka. Di balik angka itu ada wajah masyarakat, wajah keluarga, wajah generasi muda, ada harapan dan tantangan yang harus kita jawab bersama,” katanya.
Berdasarkan hasil SUPAS 2025, lanjut Dr. Edi, Maluku saat ini hampir memasuki fase ageing population dengan angka penduduk lanjut usia mencapai 9,57 persen.
“Artinya, dari 100 penduduk Maluku, sekitar 10 orang di antaranya adalah lansia. Ini bisa menjadi kabar baik karena menunjukkan usia harapan hidup masyarakat meningkat. Tapi kalau tidak dikelola dengan baik, juga bisa menjadi tantangan ke depan,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya penguatan program Lansia Berdaya (SIDAYA) dan Sekolah Lansia agar para lansia tetap sehat, aktif, dan produktif.
“Lansia bukan hanya harus sehat, tetapi juga tetap bisa berdaya, bahkan kalau memungkinkan tetap membantu keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Selain isu lansia, Dr. Edi juga menyoroti tingginya angka migrasi keluar Maluku yang mencapai 11,43 persen berdasarkan hasil SUPAS 2025.
“Ini menunjukkan banyak penduduk usia produktif memilih bekerja di luar Maluku. Memang ada dampak positif karena mereka membantu ekonomi keluarga melalui pengiriman penghasilan, tetapi kalau terus meningkat tentu harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan perlu ciptakan lapangan kerja yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Maluku agar penduduk usia produktif tetap dapat berkarya di daerah sendiri.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya penguatan Rumah DataKu di Kampung Keluarga Berkualitas sebagai basis data mikro kependudukan dalam mendukung intervensi program pemerintah.
“Rumah DataKu ini menjadi modal penting bagi kita. Karena pembangunan yang baik harus dimulai dari data yang lengkap dan sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun penguatan koordinasi, peningkatan kualitas data mikro kependudukan, serta optimalisasi pelaksanaan Program Bangga Kencana dalam mendukung pembangunan keluarga dan kependudukan di Provinsi Maluku.//humas bkkbn maluku