AMBON, N25NEWS.id – Sebuah warna baru lahir di panggung musik tradisional Maluku. Penampilan perdana Maluku Mese Mena Traditional Music Group pada Festival Lestari Budaya Kuti Jukulele yang di gelar Ansambel Musik Benteng di Gedung Taman Budaya Ambon, Sabtu (27/6), sukses memukau sekaligus menghipnotis ratusan penonton yang memadati arena pertunjukan.
Dengan aransemen musik yang memadukan nuansa tradisional Maluku dan sentuhan harmoni era 1960-an, grup ini menghadirkan pertunjukan yang berbeda.
Lagu-lagu daerah seperti Hana Masa Mayang dibawakan dengan kemasan segar, membuat penonton, yang didominasi kalangan muda, larut menikmati setiap penampilan.
Ketua Maluku Mese Mena, Nicho Tulalessy, mengatakan meski grup tersebut baru terbentuk, para personelnya merupakan musisi yang telah lama berkecimpung dalam dunia musik tradisional Maluku.
“Grup ini memang baru, tetapi diisi oleh orang-orang lama yang sudah memiliki pengalaman dalam musik tradisional. Kami bersyukur bisa tampil untuk pertama kalinya di Festival Lestari Budaya Kuti Jukulele,” ujarnya.
Tak hanya tampil di Ambon, Maluku Mese Mena juga bersiap membawa musik tradisional Maluku ke panggung internasional. Pekan depan mereka dijadwalkan tampil di Asian Forum di Australia bersama peserta dari tujuh negara.
Menurut Nicho, berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk mengaransemen ulang sejumlah lagu daerah agar lebih mudah diterima oleh masyarakat internasional tanpa menghilangkan identitas budaya Maluku.
“Kami ingin memperkenalkan kekayaan musik Maluku kepada dunia. Lagu-lagu daerah kami kemas dengan nuansa baru, tetapi tetap mempertahankan roh dan karakter aslinya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Maluku Mese Mena bukan untuk menggantikan grup musik tradisional yang telah ada, melainkan memperkaya khazanah musik tradisional Maluku dengan konsep yang lebih modern namun tetap berakar pada budaya.
“Musik modern memang penting, tetapi kita juga harus menjaga dan melestarikan musik tradisional. Itulah warisan budaya yang tidak akan pernah habis dan harus diteruskan kepada anak cucu,” tegas Nicho.
Selama bertahun-tahun dikenal aktif dalam dunia musik jukulele, Nicho mengaku ingin menghadirkan warna baru melalui konsep band musik tradisional yang memadukan berbagai instrumen dan aransemen kreatif.
Ia berharap inovasi tersebut dapat membuka wawasan generasi muda bahwa musik tradisional bisa dikemas secara menarik tanpa kehilangan nilai budaya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa musik tradisional dapat diharmonisasikan dalam format band dengan aransemen yang indah dan tetap relevan dengan selera anak muda.
Harapan kami, akan lahir semakin banyak grup yang memiliki komitmen melestarikan musik tradisional Maluku,” katanya.
Penampilan Maluku Mese Mena pun menjadi bukti bahwa musik tradisional Maluku terus berkembang mengikuti zaman. Konsep yang mereka usung menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya identik dengan grup Hawaiian atau jukulele, tetapi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kreativitas yang mampu menjangkau generasi baru.
Adapun personel Maluku Mese Mena Traditional Music Group terdiri dari Erik Alfons, Michael Puturuhu, Walson Parera, Benno Kakerissa, Ava Hills, Gebby Matitaputy, dan Vigel Faubun.
Dengan langkah menuju panggung internasional, Maluku Mese Mena membawa harapan baru bahwa musik tradisional Maluku tidak hanya hidup di tanah sendiri, tetapi juga mampu menggema di dunia sebagai identitas budaya yang membanggakan.