AMBON, N25NEWS.id – Jukulele di sekolah-sekolah Kota Ambon tidak lagi sekadar menjadi aktivitas bermain musik. Di tangan anak-anak, alat musik khas yang berkembang dalam budaya musik Maluku itu mulai menjadi ruang untuk membangun keterampilan, karakter, sekaligus kecintaan terhadap musik dan perdamaian.
Hal tersebut terlihat saat Moluccan Jukulele Leader (MJL) melakukan kunjungan rutin ke sejumlah sekolah. Salah satu perkembangan yang mendapat perhatian adalah kemampuan siswa SD Negeri 85 Ambon yang dinilai mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Saat memberikan coaching clinic, Nicho Tulalessy melihat perkembangan teknik bermain jukulele para siswa semakin pesat. Kemampuan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara konsisten mulai membuahkan hasil.
“Ini luar biasa. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, skill anak-anak dalam bermain jukulele mengalami peningkatan yang sangat baik,” ujar Nicho.
Menurut Nicho, perkembangan tersebut tidak muncul begitu saja. Ada peran kepala sekolah, guru, pelatih dan orang tua yang secara bersama-sama memberikan ruang dan dukungan kepada anak-anak untuk terus berlatih.
Menariknya, proses pembinaan jukulele di SD Negeri 85 Ambon juga tidak hanya dilakukan oleh pelatih laki-laki. Sejumlah pembinaan justru dilakukan oleh perempuan, yang menunjukkan bahwa pengembangan musik di sekolah dapat melibatkan siapa saja yang memiliki kemampuan dan kepedulian.
Nicho juga mengapresiasi dukungan Dinas Pendidikan Kota Ambon terhadap keberlanjutan pembelajaran musik di sekolah.
Ia berharap dukungan terhadap jukulele ke depan tidak hanya datang dari pemerintah dan lingkungan sekolah. Pihak swasta juga diharapkan ikut mengambil bagian, terutama dalam membantu menyediakan alat musik bagi siswa.
Menurutnya, dukungan tersebut penting karena tidak semua siswa memiliki kemampuan ekonomi yang sama untuk membeli alat musik sendiri. Bantuan dari pihak swasta maupun masyarakat dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak untuk belajar dan mengembangkan kemampuan mereka.
“Kalau ada pihak swasta yang bisa membantu menyediakan jukulele, baik untuk sekolah maupun anak-anak yang kurang mampu, tentu akan sangat membantu,” katanya.
Bagi Nicho, keberlanjutan jukulele memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar mencetak pemain musik.
Jukulele diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari identitas City of Music Ambon, sekaligus menjadi sarana membentuk karakter generasi muda.
“Yang paling utama bukan hanya bagaimana anak-anak ini bisa bermain musik, tetapi bagaimana mereka mencintai musik dan mencintai perdamaian,” ujarnya.
Karena itu, MJL tidak datang ke sekolah hanya untuk memberikan coaching clinic.
Setiap kunjungan juga dimanfaatkan untuk memberikan motivasi kepada siswa agar terus belajar, berlatih dan membuka diri terhadap berbagai peluang pengembangan diri, termasuk kesempatan mendapatkan beasiswa.
Jukulele Membentuk Mental dan Karakter
Kepala SD Negeri 85 Ambon menyambut baik kunjungan Nicho Tulalessy bersama MJL. Menurutnya, keberadaan jukulele di sekolah tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran musik sebagai bagian dari tuntutan kurikulum.
Lebih dari itu, aktivitas bermain jukulele dinilai memberikan dampak terhadap mental dan karakter siswa.
Anak-anak belajar berlatih secara konsisten, bekerja sama dalam kelompok, tampil di depan orang lain serta mengenal dan mencintai musik tradisional Maluku.
Perkembangan tersebut juga tidak terlepas dari dukungan pihak sekolah dan orang tua. Orang tua turut memberikan dorongan agar anak-anak terus berlatih di luar kegiatan pembelajaran di sekolah.
Hasilnya mulai terlihat dalam sejumlah prestasi. SD Negeri 85 Ambon bahkan pernah meraih Harapan I dalam lomba jukulele, menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat menghasilkan kemampuan sekaligus prestasi.
Perjalanan jukulele di sekolah-sekolah Ambon akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seorang anak mampu memainkan alat musik.
Di balik petikan senar dan latihan yang berulang, ada upaya membangun generasi yang mengenal budayanya, berani tampil, mampu bekerja bersama, serta memiliki kecintaan terhadap musik dan perdamaian.
Melalui kunjungan dari sekolah ke sekolah, MJL berupaya memastikan tradisi tersebut tidak berhenti pada satu generasi, tetapi terus diwariskan kepada anak-anak Maluku.
Editor : Redaksi