AMBON, N25NEWS.id – Setelah cukup lama jeda melakukan roadshow ke berbagai komunitas jukulele di Maluku, Maluku Jukulele Leader (MJL) kembali turun menyapa para pecinta alat musik tradisional tersebut.
9 September 2026, MJL untuk pertama kalinya kembali menggelar roadshow sekaligus coaching clinic jukulele dengan mengunjungi Grup Jukulele Anugrah di Halong, Kota Ambon.
Kunjungan tersebut dilakukan Koordinator MJL Nicho Tulalessy bersama teman teman. Tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak komunitas untuk kembali mengasah kemampuan bermain jukulele.
Salah satu MJL, Walson Parera, mengatakan roadshow tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan dengan komunitas sekaligus membangun kembali semangat anak-anak untuk terus berlatih.
“Kunjungan ini selain silaturahmi menjaga keakraban dengan anak-anak pecinta jukulele, sekaligus juga kembali mengasah skill bermain jukulele, sehingga dengan beragam permainan jukulele dapat menciptakan harmoni-harmoni yang indah,” ujar Walson.
Menurut Walson, jukulele tidak hanya dapat dilihat sebagai alat musik untuk hiburan. Di balik setiap permainan, terdapat nilai budaya yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda.
Karena itu, dalam setiap kunjungan ke komunitas, dirinya selalu mengingatkan anak-anak untuk mencintai sekaligus melestarikan musik tradisional Maluku.
Terlebih, perjalanan jukulele hingga dikenal luas di Maluku memiliki sejarah dan perjuangan panjang.
Walson menjelaskan, jukulele pada awalnya merupakan bagian dari perkembangan musik Hawaian.
Namun, melalui proses dan kegigihan Nicho Tulalessy bersama delapan anak dari Amahusu, jukulele kemudian berkembang dan dikenal di berbagai wilayah Maluku.
Kini, jukulele tidak hanya dimainkan dalam lingkungan tertentu, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas komunitas, pendidikan, kegiatan sosial hingga berbagai pertunjukan di Maluku.
Menjaga Regenerasi Pemain Jukulele Bagi MJL, keberadaan komunitas seperti Jukulele Anugrah Halong menjadi penting karena menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar, berlatih dan membangun kecintaan terhadap musik tradisional.
Walson berharap kembalinya roadshow MJL ke berbagai komunitas dapat memberikan energi baru bagi para pemain jukulele.
“Kami berharap dengan kunjungan MJL lagi ke komunitas-komunitas dapat memberikan semangat bagi komunitas jukulele untuk lebih giat berlatih,” katanya.
Ia menegaskan, MJL tidak ingin gerakan pelestarian jukulele berhenti pada kegiatan pertunjukan saja.
Regenerasi pemain dan keberlanjutan komunitas menjadi bagian penting agar musik tersebut tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Ke depan, kata Walson, MJL akan kembali mengunjungi komunitas-komunitas jukulele yang tersebar di berbagai wilayah.
Roadshow tersebut diharapkan bukan hanya menjadi agenda kunjungan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menjaga jukulele tetap hidup, dimainkan, dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, ketika anak-anak terus memegang dan memainkan jukulele, sesungguhnya mereka juga sedang ikut menjaga salah satu warna musik yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Maluku.
Editor : Redaksi