AMBON,N25NEWS.id – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Maluku menggelar malam perenungan memperingati 30 tahun Tragedi Kudatuli di pelataran Pattimura Park, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Senin (27/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang salah satu peristiwa penting dalam sejarah demokrasi Indonesia sekaligus mengajak masyarakat menjaga kebebasan berpendapat dan menolak segala bentuk kekerasan politik.
Ketua DPD PDI Perjuangan Maluku, Benhur George Watubun, menegaskan bahwa peringatan Kudatuli bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadi pengingat agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di Indonesia.
“Kudatuli bukan hanya luka bagi PDI Perjuangan, tetapi menjadi luka bagi seluruh rakyat Indonesia karena merupakan simbol pembungkaman terhadap demokrasi,” kata Benhur usai mengikuti malam perenungan.
Menurutnya, bangsa Indonesia harus menjadikan tragedi tersebut sebagai pelajaran berharga dalam memperkuat kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, dan penyelesaian perbedaan melalui cara-cara damai.
Ia juga mengajak seluruh kader PDI Perjuangan menghormati para senior dan sesepuh partai yang telah berjuang mempertahankan nilai-nilai demokrasi pada masa-masa sulit.
“Mereka adalah saksi hidup sekaligus pelaku sejarah. Tanpa perjuangan mereka, PDI Perjuangan tidak akan berdiri hingga hari ini. Karena itu, jasa dan pengorbanan mereka harus terus dikenang,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, mengatakan Tragedi Kudatuli memberikan pelajaran penting bahwa demokrasi harus dijalankan dengan menghormati hak-hak warga negara dan menolak segala bentuk intimidasi maupun kekerasan.
“Peristiwa yang sudah terjadi merupakan pelajaran berharga bagi kita semua. Demokrasi hadir untuk memperjuangkan hak-hak rakyat sehingga setiap bentuk kekerasan maupun upaya membungkam kebebasan harus ditolak,” katanya.
Bodewin menegaskan Pemerintah Kota Ambon berkomitmen menjaga iklim demokrasi yang sehat sesuai nilai-nilai konstitusi serta memberikan ruang yang setara kepada seluruh partai politik dalam kehidupan demokrasi.
“Sebagai pemerintah, kami hadir sebagai pengayom bagi seluruh partai politik tanpa membedakan latar belakang politik masing-masing,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia, Johan Rahantoknam, menjelaskan malam perenungan diikuti pengurus, kader, dan simpatisan PDI Perjuangan dari Kota Ambon dan wilayah sekitarnya sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan demokrasi di Indonesia.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami perjalanan sejarah bangsa, menghargai perbedaan pendapat, serta menjaga persatuan di tengah kehidupan demokrasi yang semakin berkembang.
Sebagai informasi, Tragedi Kudatuli terjadi pada 27 Juli 1996 di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Jakarta Pusat. Peristiwa yang dipicu konflik internal partai tersebut berkembang menjadi kerusuhan yang menimbulkan korban jiwa, korban luka, dan orang hilang.
Tragedi itu kemudian dikenang sebagai salah satu peristiwa penting yang mendorong lahirnya semangat Reformasi serta penguatan demokrasi di Indonesia.
Peringatan 30 tahun Kudatuli di Ambon diharapkan tidak hanya menjadi agenda mengenang sejarah, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat bahwa demokrasi harus dijaga melalui penghormatan terhadap hukum, hak asasi manusia, dialog, serta partisipasi aktif warga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jika dipublikasikan sebagai berita utama, judul ini cukup kuat karena menonjolkan kepentingan publik dan nilai pembelajaran sejarah, bukan semata kegiatan internal partai.