AMBON,N25NEWS.id-Alat musik tradisional Jukulele merupakan warisan budaya dari para luluhur orang tua-tua yang mengagumkan.Pasalnya,alat musik yang dulunya diberi nama “Juk” ini begitu digemari oleh masyarakat Maluku.
Hal ini dikatakan Eliza Marthen Kissya salah satu budayawan Maluku dan sesepuh Jukulele,kepada N25NEWS,pada sela-sela kunjungan Mollucan Jukulele Leaders (MJL) ke Negeri Hutumuri,Kamis (1/6/2023).
Lebih lanjut,Eliza Marthen Kissya mengatakan,alat musik tradisional Jukulele ini sempat mengalami pengunduran dan nyaris hilang karena tidak dikembangkan (kalesang).Namun, periode pengunduran itu,lantas tidak membuat orang-orang tua-tua meninggalkan Jukulele yang merupakan salah satu alat musik yang menjadi identitas orang,secara masif.Jukulele dipertahankan hingga kini.
“Jujur saya bangga,sekarang Jukulele paling berkembang.Kita bisa lihat saja hampir semua anak-anak dan bahkan semua kalangan seperti terkena virus Jukulele.Dimana-mana muncul berbagai komunitas Jukulele seperti jamur di musim hujan,”ungkap Eliza Marthen Kissya.
Dia pun mengisahkan,dulunya kemana pun dirinya pergi selalu mambawa Jukulele,sehingga dirinya dianggap sebagai figur yang identik dengan Jukulele.
“Kalau dulu ada acara,dimana saya di undang,biasanya yang mengundang meminta saya membawa Jukulele untuk bernyanyi di acara tersebut.Om Eli Jang lupa bawa Jukulele,itu pesan yang selalu mereka bilang buat Beta (saya),”tuturnya.
Diakuinya, untuk sekarang dirinya sangat bangga, karena Jukulele semakin berkembang.Hal itu terlihat dimana anak-anak dengan berbagai komunitas selalu menunjukan kebolehan mereka dalam bermain Jukulele pada acara-acara besar,bahkan juga bermain Jukulele didepan presiden.
“Olehnya sebagai sesepuh Jukulele Beta mau bilang,sekarang hari sudah malam,singga dolo di Sanana,mari Katong memanfaatkan Jukulele secara arif dan bijaksana,”tandasnya.
“Dan untuk Katong pung generasi muda,Beta pikir kalau berlayar ke Utara,memang badai tidak terduga, saatnya Maluku angkat suara selamatkan Jukulele sekarang juga,”ujarnya.
Sementara itu,Nona Pattiapon salah satu pembina Yakarima Jukulele Hutumuri menuturkan,awal terbentuknya komunitas Yakarima Jukulele ini,hanya diikuti oleh beberapa anak-anak dan itupun karena mereka melihat penampilan anak-anak bernyanyi dengan Jukulele membawakan lagu-lagu pujian di gereja.
Dari situ banyak yang berminat, apalagi untuk masuk di komunitas ini tidak ada syarat tertentu.
“Sekarang kami di komunitas Yakarima Jukulele Hutumuri sudah memiliki 40 anak didik.Kami juga akui perkembangan kami di Hutumuri tidak terlepas dari campur tangan MJL,”terangnya.
Untuk itu, selaku Pembina Yakarima Jukulele Hutumuri menyampaikan terima kasih kepada MJL,sebab nanti di tanggal 17 Juni Yakarima Jukulele Hutumuri akan ikut ambil bagian dalam kegiatan Badendang Jukulele Manise akan digelar di Gong Perdamaian Kota Ambon.
“Walaupun kami dari kampung yang jauh dari kota,namun kami akan buktikan bahwa kami mampu menampilkan yang terbaik,”pungkasnya.
Untuk diketahui, Yakarima Jukulele Hutumuri merupakan nama yang diberikan oleh tua-tua adat di Negeri Hutumuri,dimana komunitas Yakarima Jukulele Hutumuri memiliki arti adalah Maju Terus.