SAUMLALI,N25NEWS.id-Di bawah langit cerah Markas Kodam XV/Pattimura, barisan prajurit dan ASN pada jajaran Kodam XV/Pattimura berdiri tegak dan rapi di lapangan upacara Senin pagi (17/5/2026).
Seragam loreng dan seragam dinas berpadu serasi, menciptakan suasana khidmat yang menyiratkan disiplin dan persatuan.
Di tengah barisan itu, ada satu harapan yang sama, mengikuti amanah negara dan melayani masyarakat.Hari itu bukan sekadar upacara bendera rutin.
Kehadiran Panglima Kodam XV/Pattimura, Mayjen TNI Dodi Triwinarto, S.I.P., M.Han., selaku Inspektur Upacara, membawa makna yang jauh lebih dalam.
Momen ini menjadi panggung pembuktian bahwa di jajaran Satuan Pattimura, prestasi adalah harga mati, dan pengabdian tulus adalah jalan hidup yang dipilih.
Suasana semakin menyentuh ketika Pangdam secara langsung menyerahkan piagam penghargaan kepada lima prajurit yang dinilai telah mengukir sejarah keberhasilan luar biasa.
Kelima nama ini kini tercatat sebagai teladan, diurutkan berdasarkan pangkat dari yang tertinggi hingga terendah, membuktikan bahwa keteladanan dan prestasi bisa lahir dari tingkatan mana pun.
Letkol Inf Hendra Surya Ningrat,Kasbrig 27/Nusa Ina
Sebagai perwira dengan pangkat tertinggi di antara para penerima penghargaan, Letkol Hendra memberikan makna kepemimpinan sejati.
Namanya tercatat sebagai pahlawan penyelamat saat masih menjabat Komandan Kodim 1507/Saumlaki. Di perairan laut Kepulauan Tanimbar yang kadang berombak ganas, ia mendengar kabar ada sepasang suami istri yang terhanyut arus dan nyaris tenggelam.
Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung terjun ke laut. Baginya, jabatan dan pangkat tidak ada artinya jika tidak mampu melindungi nyawa rakyat. Aksi nekat dan heroik itu menyelamatkan dua nyawa sekaligus, menjadi bukti nyata bahwa pemimpin TNI selalu berada di garda terdepan saat bahaya mengancam.
Mayor Inf Ikbal Hanafi,Pasilat Siops Rem 152/Baabullah
Di tingkat perwira menengah, keberhasilan Mayor Ikbal adalah pelajaran berharga tentang seni diplomasi dan pendekatan hati. Bertugas di wilayah Halmahera Timur, ia tidak pernah datang dengan sikap angkuh atau penuh perintah. Ia hadir sebagai saudara, pendengar, dan sahabat bagi masyarakat.
Ketulusannya merangkul ratusan warga di beberapa desa, perlahan namun pasti meluluhkan hati masyarakat. Hasilnya sungguh luar biasa: warga secara sukarela menghibahkan tanah seluas 400 hektar untuk keperluan pengembangan satuan TNI AD.
Bagi warga, menyerahkan tanah warisan bukanlah kerugian, melainkan bentuk kepercayaan mutlak bahwa tanah itu akan dijaga oleh mereka yang juga menjaga keselamatan mereka.
Kapten Inf Yus Budi Harto,Danramil 1501-03/Jailolo
Pengabdian Kapten Yus Budi Harto membuktikan bahwa tugas TNI tidak hanya soal pertahanan fisik, tetapi juga menjaga kemanusiaan dan keadilan. Saat memimpin Koramil di Jailolo, ia dihadapkan pada situasi sosial yang panas: sebuah keluarga diusir dari kampung karena tuduhan yang tidak berdasar dan tidak terbukti.
Di saat orang lain diam dan takut campur tangan, Kapten Yus justru maju ke depan. Ia turun tangan mendamaikan, memulangkan kembali keluarga tersebut, mengamankan kedamaian, bahkan berinisiatif membangun kembali rumah tempat mereka berlindung.
Tindakannya menjadi obat yang menyembuhkan luka sosial yang menganga, sekaligus mengingatkan semua orang bahwa TNI adalah pelindung bagi siapa saja, tanpa kecuali.
Pelda Amran Latukaisupi,Bamintuud Jasdam XV/Pattimura
Dari kalangan Bintara, Pelda Amran menunjukkan bahwa kekuatan terbesar TNI terletak pada kedekatan emosional dengan rakyat. Bertugas di Kabupaten Seram Bagian Barat, ia bergerak dari rumah ke rumah, berbaur dalam setiap kegiatan warga, dan membangun ikatan persaudaraan yang sangat kental.
Ia tidak bicara banyak soal aturan, tapi bicara banyak soal kepedulian dan kebersamaan. Kekuatan ikatan batin itulah yang akhirnya membuat masyarakat luluh dan menghibahkan tanah seluas 40 hektar guna mendukung keberadaan Yon TP 865/Satria Manewata. Sebuah kemenangan damai, yang diraih bukan dengan senjata, melainkan dengan ketulusan hati seorang prajurit.
Kopda Mario Gino,Babinsa Desa Todowongi
Di urutan terbawah dalam jenjang kepangkatan, Kopda Mario Gino justru menjadi nama yang paling dikenal publik berkat aksi sederhananya yang menggetarkan hati bangsa. Sebagai seorang Babinsa, tugasnya memang mendampingi warga, namun momen saat ia menggendong dan menolong siswa sekolah menyeberangi sungai yang deras, terekam kamera dan viral di media sosial.
Bagi Mario, itu hanya kewajiban kecil seorang prajurit. Namun dampaknya meluas hingga ke ibu kota, menarik perhatian Kementerian PUPR. Berkat ketenaran kisah itu, akhirnya sebuah jembatan gantung senilai Rp7 miliar dibangun kokoh di sana, memutus isolasi desa dan membuka masa depan cerah bagi ribuan warga, terutama anak-anak sekolah.Satu tindakan kecil yang lahir dari kepedulian, melahirkan manfaat besar yang abadi.
Di hadapan lima sosok teladan ini,mulai dari Letkol hingga Kopral-Pangdam XV/Pattimura berbicara lantang, suaranya bergema membelah udara lapangan upacara, menembus hingga ke hati setiap prajurit dan ASN pada jajaran Kodam XV/Pattimura yang hadir.Pesannya yang berharga menjadi pedoman hidup bagi seluruh jajaran.
“Tidak bosan saya sampaikan, bahwasanya prestasi dan pelanggaran itu adalah pilihan hidup kita. Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya bagi prajurit yang telah memilih prestasi sebagai pilihan hidupnya. Mudah-mudahan hal ini menjadi motivasi untuk kita semua,” tegas Mayjen Dodi, matanya menatap lurus ke depan penuh keyakinan.
Ia menegaskan makna sejati keberadaan sebuah institusi militer. “Buat apa satuan ini, buat apa Kodam ini, jika sibuk tidak untuk memberikan penghargaan kepada prajurit-prajurit yang berprestasi. Saya tidak pernah memikirkan kepada oknum-oknum yang melanggar, karena bagi saya itu adalah pilihan dia, dan akan disesuaikan dengan aturan hukum yang berlaku. Tapi bagi prajurit yang berprestasi, dari pangkat tertinggi sampai terendah, saya akan memikirkan yang terbaik bagi dia,”tegasnya.
Lebih dalam lagi, Pangdam mengingatkan bahwa penghargaan ini bukan sekadar piala atau kertas, melainkan warisan kehormatan yang tak ternilai harganya.
“Sekali lagi terima kasih dan apresiasi kepada prajurit-prajurit yang berprestasi. Mudah-mudahan ini bisa menjadi sejarah, menjadi legenda hidup kalian, menjadi catatan terbaik bagi anak cucu kalian, bahwasanya kalian pernah diakui di satuan ini,”tandasnya.
Pesan itu terbuka lebar bagi siapa saja yang belum mendapat kesempatan serupa. “Mudah-mudahan kepada yang lain, cukup besar peluang untuk memberikan prestasi bagi satuan ini, bagi keluarga, bagi negara. Berbuatlah yang terbaik bagi masyarakat, belajarlah mencintai masyarakat, sehingga pasti dicintai masyarakat,”ujarnya.
Di penghujung amanat, terselip rasa bangga yang membuncah namun dibalut tanggung jawab besar. “Saya bangga dengan satuan ini, saya bangga dengan seluruh prajurit dan seluruh jajaran ASN yang berada pada Kodam XV/Pattimura. Kebanggaan ini adalah milik kita bersama. Jika kita bangga dengan satuan ini, pasti kita akan malu untuk membuat pelanggaran. Jika kita bangga dengan satuan ini, pasti kita akan menjaga nama baik satuan ini,”ucapnya.
Arahan mulia ini sejalan dengan amanat Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak yang turut dibacakan dalam kesempatan itu. Kasad mengingatkan agar seluruh jajaran semakin bijak menyikapi persoalan dan mencari solusi terbaik bersama rakyat. Semangat kerja harus terus dipelihara, fokus pada tugas pokok, dan menjauhi pelanggaran sekecil apa pun.
Upacara pun berakhir, barisan demi barisan meninggalkan lapangan. Namun satu pesan kuat kini tertanam dalam hati setiap prajurit dan ASN pada jajaran Kodam XV/Pattimura.
Di sini, mencintai rakyat dan berprestasi bukan sekadar kewajiban, melainkan identitas yang sama bagi semua, tanpa memandang pangkat dan jabatan. Dan bagi mereka yang memilih jalan ini, sejarah akan mencatatnya sebagai legenda hidup.(JM)