AMBON, N25NEWS.id – Pemerintah Kota Ambon menyalurkan bantuan sebesar Rp15 juta per kepala keluarga (KK) kepada warga terdampak kebakaran dan pohon tumbang.
Bantuan ini diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan pemulihan pascabencana setelah kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan akibat peristiwa tersebut.
Penyerahan bantuan berlangsung di Balai Kota Ambon, Senin (12/10/2026).
Sebelumnya, para korban juga telah menerima bantuan tanggap darurat melalui Dinas Sosial.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kehadiran negara dalam membantu masyarakat menghadapi situasi sulit akibat bencana.
“Ini merupakan bukti kehadiran negara bagi warganya di tengah situasi yang dialami pascabencana,” katanya.
Menurutnya, masyarakat harus merasakan kehadiran pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan, terutama ketika menghadapi kondisi darurat yang membutuhkan penanganan dan dukungan bersama.
Di tengah penyaluran bantuan bagi korban bencana, Pemkot Ambon juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap yang semakin tebal akibat kondisi kemarau berkepanjangan.
Bodewin secara khusus meminta anak-anak dan lanjut usia (lansia) menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.
“Kabut asap semakin tebal. Mari anak-anak dan orang tua memakai masker, harus menjaga kesehatan,” ujarnya.
Ia menyebut kemarau panjang yang berlangsung saat ini berkaitan dengan fenomena El Niño. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kebakaran apabila masyarakat tidak berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api.
Tercatat 34 Kejadian Kebakaran
Bodewin mengungkapkan, sejak 21 September hingga 10 Oktober 2026, tercatat 34 kejadian kebakaran di sejumlah titik di Kota Ambon.
Angka tersebut menjadi perhatian pemerintah, mengingat kebakaran tidak hanya berpotensi merusak lingkungan dan permukiman, tetapi juga mengancam keselamatan warga serta menimbulkan kerugian bagi banyak pihak.
Karena itu, ia kembali mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Frekuensi kejadian kebakaran, terhitung dari 21 September sampai dengan 10 Oktober, terdapat 34 kejadian di beberapa titik. Sehingga saya mengimbau kepada seluruh masyarakat, mari kita masing-masing jaga lingkungan, tidak melakukan sesuatu yang merugikan banyak orang,” tegasnya.
Wali Kota menegaskan, pemerintah tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang muncul akibat bencana dan kemarau berkepanjangan tanpa dukungan masyarakat.
Kesadaran menjaga lingkungan, mencegah sumber api, serta melindungi kelompok rentan dari paparan kabut asap menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk mengurangi risiko bencana.
“Mari kita saling menopang untuk melakukan tugas dan tanggung jawab dengan baik, untuk melewati permasalahan ini secara bersama agar bisa melewati masa krisis kemarau berkepanjangan ini dengan baik,” pungkasnya.
Penyaluran bantuan kepada korban kebakaran dan pohon tumbang menjadi salah satu bentuk penanganan pascabencana. Namun, di tengah ancaman kemarau dan kabut asap, upaya pencegahan serta kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan agar tidak muncul korban dan kerugian baru.
Penulis : Kres
Editor : Redaksi