Military Craft : Semangat Baru Mengawal Timur Indonesia

by
by

SAUMLAKI,N25NEWS.id-Dilansir Pendam XV Pattimura Ambon.Di tengah hamparan Pusdiklatpassus Kopassus, Batujajar, Kamis lalu, terdengar satu tekad yang menggema dari ujung barat hingga ke ujung timur nusantara.

Di hadapan ratusan Komandan Satuan se-Indonesia, Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto berdiri tegak, membawa pesan bagi wilayah yang terdiri dari ribuan pulau. Maluku dan Maluku Utara siap menata barisan dengan cerdas, kreatif, dan penuh inovasi.

Apel Komandan Satuan (Dansat) TNI Angkatan Darat 2026 yang dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, melahirkan satu arahan bernama “Military Craft”.

Bukan sekadar tema kegiatan, melainkan sebuah semangat baru, mengelola satuan dengan kepemimpinan yang cerdas, beradaptasi dengan kemajuan zaman, dan tetap berpijak pada tanah air.

Kasad mengingatkan, kekuatan tidak hanya diukur dari senjata yang digenggam, melainkan dari kecerdasan memimpin, kemampuan menguasai teknologi, serta kepedulian tulus terhadap prajurit dan rakyat. Di atas semua itu, tertanam tiga kata yang tak boleh luntur. Satu Komando, Satu Tekad, Satu Pengabdian.

Bagi Pangdam XV/Pattimura, arahan itu bukan sekadar kalimat. Ia adalah tantangan sekaligus peluang. Wilayah Kodam XV/Pattimura terbentang luas, terdiri dari ribuan pulau, dengan laut yang memisahkan sekaligus menyatukan.

Di sinilah “Military Craft” menemukan maknanya yang nyata: bagaimana membangun pola kepemimpinan yang adaptif, efektif, dan tetap merangkul keberagaman alam kepulauan.

“Karakteristik wilayah kepulauan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi satuan jajaran Kodam XV/Pattimura untuk mengembangkan pola kepemimpinan yang adaptif, efektif, dan inovatif,” tegas Pangdam, ia menegaskan kesiapan menerapkan konsep tersebut di tanah Maluku dan Maluku Utara.

Di sela-sela apel, mata para pemimpin itu juga tertuju pada kendaraan taktis Maung MV3 PT Pindad dan teknologi drone pertahanan yang dipajang. Teknologi baru itu seakan menjadi simbol, kesetiaan pada komando tetap dijaga, namun langkah dan cara berpikir terus diperbarui.

Kini, setelah kembali ke wilayahnya, semangat “Military Craft” itu dibawa pulang untuk ditanamkan di setiap jajaran.

Bukan sekadar mengawal wilayah, melainkan mengawal dengan kecerdasan, keterampilan, dan hati demi menjaga kedaulatan sekaligus membahagiakan rakyat di ujung timur Indonesia.(JM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *