AMBON,N25NEWS.id-Perayaan Natal keluarga besar DPD Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Maluku,berlangsung dalam suasana yang penuh dengan kebersamaan dan hikmat.
Pendeta Albert Hotman,MPD dalam refleksi Natal menjelaskan tentang peran para gembala dalam strata sosial masyarakat dan dari sisi dunia peradilan ,dimana nampak jelas bahwa terjadi diskriminasi,bahwa hak-hak hukum mereka sama sekali tidak didengar.
“Dalam Talmud,salah satu kitab orang Yahudi,kita dengan jelas melihat bahwa para gembala yang status mereka sebagai golongan rendah,atau orang-orang yang kasar, mereka cenderung menjadi korban ketidak,”ungkap Pdt Albert Hotman MPD dalam refleksi Natal pada perayaan Natal DPD GAMKI Maluku, Jumat (23/12/2022).
Selain itu,kata Pdt Albert Hotman jika dikaitkan dengan Natal di malam ini,bagiamana posisi kader sebagai keluarga besar DPD GAMKI Maluku,apakah selaku kader tetap konsisten di jalan untuk memperjuangkan panggilan hidup berbangsa teristimewa mereka yang terpinggirkan.
Oleh karena itu,proklamasi kasih Allah melalui kelahiran Yesus,itu lahir dari sebuah ketulusan cinta kasih Allah.
Hari ini banyak orang melakukan kebaikan,tetapi pertanyaannya apakah kebaikan itu dilakukan atas dasar ketulusan sebagai sebuah panggilan.
“Dan kita mesti menyadari bahwa ada selaput yang tipis antara kebaikan dan kepentingan diri,”ujar Pdt Albert Hotman.
Adapun,berita tentang kedatangan Yesus kepada para gembala di Padang,terjadi dalam situasi kesunyian bukan gegap gempita.
Secara simbolik ini hanya menunjukkan bahwa Natal memang tidak harus spektakuler,sebab yang terpenting adalah esensinya yaitu keberpihakan kepada mereka yang lemah dan terpinggirkan dengan motivasi yang benar,motivasi yang dilandasi dengan keterpanggilan kita kita sebagai GAMKI maka terpanggilah.”Kita sebagai representasi dari pada gereja untuk menghadirkan tanda-tanda Allah,”papar Pdt Albert Hotman.
Dari teks ini dapat kita ditemukan peran dari pada gembala sebagai pelindung bagi domba-dombanya.”Dan saya mencoba mencari benang merahnya dengan makna perisai dari logo GAMKI,artinya GAMKI harus melakoni perannya sebagai pelindung bagi gereja bangsa dan negara,”kata Pdt Albert Hotman.
karena itu,GAMKI mesti memiliki tipikal sebagai perisai membawa perdamaian dan keadilan dan seluruh kader mesti mewarnai bangsa ini,bukan sebaliknya.Diiwarnai oleh barbagai tawaran dan kepentingan sehingga GAMKI kehilangan identitas.
“Melalui para gembala kita menemui arti kesetiaan,dan mereka selalu melindungi domba-dombanya,artinya mereka memiliki totalitas diri,keberanian untuk berkorban.Yesus sendiri menyatakan dirinya sebagai gembala yang baik yang menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya,”ujar Pdt Albert Hotman.
Karena itu sebagai kader mesti memaknai bahwa GAMKI bukanlah terminal transit melainkan media untuk menyatakan panggilan kekristenan secara total dalam kehidupan berbangsa.
Natal selalu identik dengan damai sebab disitu bersinar artinya Tuhan dan manusia berdamai.”Saya kira perjalanan kita sepanjang tahun 2022 tidak bebas dari gesekan-gesekan baik perbedaan cara pandang dan sebagainya itu dinamika kehidupan berorganisasi,”tutur Pdt Albert Hotman.
“Saya kira Natal ini momen yang tepat untuk kita saling mengampuni,karena dengan kesadaran bahwa kita semua bukanlah orang yang sempurna,karena itulah mari kita sama-sama saling memaafkan supaya kita mampu maju melangkah untuk menjadi berkat bagi dunia,”pungkas Pdt Albert Hotman.
Sementara itu,Ketua GAMKI Maluku,Heppy Lelapary mengatakan perayaan Natal keluarga besar GAMKI adalah menghadirkan,cara berjumpa dengan Tuhan adalah GAMKI harus melahirkan eksistensi ketuhanan itu dalam diri kader GAMKI yang memiliki aktivitas.
“GAMKI ini ketika berdiri kita sudah memulai dengan diskusi memberi, kontribusi pengayaan bagi undang-undang cipta kerja.Waktu dilaksanakan kerjasama dengan pa Hendrik Lewerissa,”ujar Heppy Lelapary.
Di edisi kedua GAMKI berkerjasama dengan staf Milenial staf kepresidenan.Namun satu ketika dihantam badai Covid-19.Olehnya,GAMKI konsen pada nasib pendidikan di Maluku.
“Kami tujuh kali berturut-turut melakukan diskusi tema pendidikan berseri dengan guru-guru seluruh Maluku,dengan berbagai tema bagaimana menggagas pembelajaran di tengah-tengah kondisi Covid-19,”jelasnya.
“Jadi ketika orang lagi memilih berpikir tentang pola penanganan pendidikan,kita sudah mulai dengan memberikan pengayaan.Kerjasama dengan Universitas Kristen Krida,kita kirim 21 guru dari Maluku untuk dibina disana,”ungkap Heppy Lelapary.
Lebih lanjut,ketika semua orang kuatir tentang pangan nasional karena Covid-19 lalu GAMKI gelar diskusi tematik tentang keberpihakan kepada pangan lokal dan itu luar biasa.
Lalu ditengah-tengah semua orang menjadi resah karena isolasi dan sebagainnya GAMKI tiga kali melakukan kegiatan berbagi sembako.Dan banyak orang belum berpikir tentang hal itu.
“Kita juga turun tangan mengawal suku Masuane,kemudian penambangan hutan di Seram dan terakhir harus berhadapan dengan militer,”pungkasnya.