Lounching Malucan Ukulele Day Akan Di Hadiri 1300 Anak

by -69 views
by

AMBON,N25NEWS.id-Sebanyak 1300 anak dari komunitas musik ukulele akan menghadiri “Mollucan Ukulele Day” dengan tujuan untuk mengedukasi serta mempersatukan anak-anak Maluku yang memiliki hobi musik yang sama.

Hal tersebut disampaikan Lex Litilehala dari Bahtera Voices ofesivir Tim Ukulele yang berbasis di Gudang Arang,kepada N25NEWS.id,Selasa (30/8).

Menurutnya,tujuan jangka panjang dari tim ukulele ini adalah ukulele ini mau menebarkan cinta kepada semua orang.Cintanya apa ?,ketika orang bernyanyi itu menyenangkan hati orang lain,maka ada muncul kesenangan hati dari orang lain kemudian menebarkan cinta itu lewat nyanyian-nyanyian.

“Tapi sebelumnya saya mau katakan begini ukulele ini bukan baru sekarang, ukulele ini sudah dari kita punya orang tua dulu-dulu,mereka sudah main ukulele ini yang bisa kita sebut Juk,sekarang baru kita bilang ukulele,”jelasnya.

Adapun,Juk itu ada yang hanya memiliki senar 3-4 senar (tali Juk) jadi orang tua yang dulu mereka biasa main Juk yang 3 senar, biasanya mereka kumpul di Walang (rumah di kebun) sambil bernyanyi diiringi Juk.Biasanya mereka main Juk setelah mereka selesai bekerja, mereka biasa bermain Juk untuk menghilangkan rasa capek.

“Saya rasa tujuan kita kedepan itu lebih mengarah untuk membesarkan ukulele,membesarkan anak-anak ini, untuk bilang buat mereka bahwa ukulele ini salah satu alat musik yang sudah mendarah daging dalam kita punya kehidupan,”ujarnya.

“Kegiatan yang kita buat,1.300 lebih anak-anak ukulele untuk mempersatukan anak-anak ini dari setiap kalangan,baik muslim maupun kristen kita tidak boleh membedakan tetapi kita ini anak-anak Maluku,yang bermain ukulele sambil bernyanyi untuk menyebarkan cinta kepada setiap orang,”ucap Lex Litilehala.

Sedangkan Stevi Sahetapy mengatakan tujuan utama pihaknya melaksanakan pentas ini adalah karena orang semua tau bahwa Maluku ini adalah gudang seniman,gudang musisi dan lebih banyak lagi.

“Di satu sisi banyak seniman,tetapi istilahnya kita tidak pernah bersatu,karena biasanya yang lain tidak senang terhadap yang lain,lalu ada yang merasa diri pintar,sehingga tidak perduli lagi dengan orang lain.Tetapi kita di ukulele tidak seperti itu,”paparnya.

“Karena itu,kita melakukan kegiatan ini adalah mempersatukan ukulele yang ada di Maluku, untuk tujuan pertama,satu sisi kita semua lahir dengan DNA yang sudah bermusik.Jadi bagaimana kita mengajarkan itu kepada kita punya anak-anak didik,tetapi yang utama itu adalah pelayanan,”tambahnya.

Dengan demikian pentas ini harus disyukuri bahwa kegiatan besar ini bisa menjadikan,atau terjadi suatu perkumpulan 1.300 orang untuk kegiatan tersebut,itu sangat luar biasa dan untuk lebih baik lagi itu memperkenalkan ukulele kepada dunia.Supaya dunia tau bahwa ukulele di Maluku ini ternyata sudah 1000 lebih dan itu bukan tingkatan dewasa,terapi itu dari anak-anak,dari yang usia yang paling minim sekitar 5 tahun.

“Kami berharap semua kalangan dapat mendukung kami dan kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua kalangan yang mendukung terlaksananya kegiatan MUD tanggal 4 nanti,”katanya.

Dikesempatan yang sama pula,dr.Genty Nanere mengatakan,kehadirannya di Ambon untuk kegiatan pentas MUD,karena mungkin sama dengan teman-teman disini yang mempunyai visi-misi tentang ukulele itu sendiri.

“Sesuatu yang mungkin dari masa kecil,saya lihat masih ada,tetapi sempat hilang,namun saat ini saya lihat ada mimpi yang terlihat bisa kita bisa lakukan bersama.Tidak ada salah,ada bersambut gayung disitu,”ujar dr Genty Nanere.

Selain itu,dirinya melihat sebagai pandangan seorang dokter dan mungkin juga sebagai kakak disini,musik menurutnya adalah dasar dari semunya,cara orang berpikir,kepintaran seseorang,kesehatan seseorang itu,yang harus dimiliki dasar yang penting fondasinya.

“Dan kapan kita bisa memperkenalkan sedini mungkin,bahkan masih dalam kandungan ibu.Generasi-generasi ini yang mungkin sudah banyak michin dengan generasi ini bisa tetap pada fondasi yang kuat,”ujarnya.

Sehingga waktu mereka sudah lulus sekolah dan bakan keluar Ambon tetap melekat budaya itu melekat dalam diri orang Maluku.

Sementara itu, Koordinator Mollucan Ukulele Leaders,Nicho Tulalessy mengatakan,pentas “Mollucan Ukulele Day (MUD) yang bakal berlangsung di Kota Ambon pada tanggal 4 September 2022 tersebut,akan dikemas secara Malukuan,sehingga tidak hanya di konsumsi oleh warga Kota Ambon saja,namun Maluku secara umum.

Menurut Nicho Tulalessy yang adalah Founder AUKC ini mengatakan,jika pentas MUD dikemas secara Maluku,tentu ini sangat luar biasa,karena sejarah musik di Maluku belum pernah dilakukan pentas seperti ini.Apalagi MUD merupakan kolaborasi dari para pelatih ukulele dan ketua group yang ada di Maluku dan bahkan dari Jayapura (Papua).

“Jadi pentas MUD sangat spesial karena kita dari Kota Ambon yang menginspirasi basudara di kabupaten/kota di Maluku bahkan Papua,dimana secara geografis kita sudah mempengaruhi daerah lain,”kata Nicho Tulalessy.

“Untuk itu,saya berharap kalau kita menetapkan dan bisa kerjasama dengan salah satu kota di Australia dan merukan kota ukulele di Asutralia.Dan misalnya kota di Amerika Serikat.Kita cek kota mana yang jadi ukulele di negara itu kita bisa konekting juga jadi kita bisa syering,Bagun jajaring yang mungkin akan berdampak pada kita punya adik-adik di kemudian hari akan merasakan manfaat, pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *