Ironi Diujung Negeri,Piala UHC Di Jakarta, Nyawa Melayang Di Mitak

by -115 views
by

SAUMLAKI,N25NEWS.id-Ada kepahitan yang sulit ditelan saat kita harus membandingkan gemerlap panggung di Jakarta dengan realita getir di tanah sendiri.

Beberapa waktu lalu, tepatnya Selasa (27/1/2026), di Ballroom JOEXPO Kemayoran yang megah, Kabupaten Kepulauan Tanimbar diganjar penghormatan tinggi. Bupati Ricky Jauwerissa dengan bangga menerima penghargaan Kategori Pratama atas pencapaian Universal Health Coverage (UHC).

Sebuah predikat indah yang menandakan daerah ini dinilai telah memenuhi standar layanan kesehatan, berkomitmen kuat, dan sukses berkolaborasi demi kesejahteraan rakyat.

Di atas kertas, Tanimbar terlihat begitu hebat. Di mata pusat, sistem kesehatan kita diklaim sudah berjalan, sudah merata, dan siap melindungi setiap jiwa di Bumi Duan Lolat.

Namun, seberapa berhargakah sebuah piala dan sertifikat bergengsi itu, jika di lapangan nyata justru memperlihatkan wajah yang sangat berbeda?.

Minggu (05/04/26), tangis pecah di Dusun Mitak, Desa Awear Rumngeur, Kecamatan Wuarlabobar. Seorang ibu hamil berinisial DS harus meregang nyawa, bukan di ranjang rumah sakit yang layak, melainkan di tengah perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Harapan keluarga untuk menyelamatkan nyawa sang ibu pupus seketika. Di sana, di pelosok desa ini, predikat “UHC Pratama” itu seolah hanyalah teori belaka. Realitanya, fasilitas kesehatan diduga tidak siap, peralatan medis terbatas, dan pelayanan yang jauh dari kata maksimal.

Sang ibu dibawa berjuang dari tingkat desa ke kecamatan, namun tak tertangani. Harapan berpindah ke rujukan kota, namun takdir berkata lain sebelum tiba. Nyawa itu melayang sia-sia, dikalahkan oleh sistem yang rapuh dan ketidaksiapan yang mematikan.

Ini adalah ironi yang paling menyakitkan.Bagaimana mungkin kita berbangga hati dengan gelar “Pratama”, sementara di desa-desa terpencil rakyat masih harus mempertaruhkan nyawa hanya karena tidak ada alat dan tidak ada pertolongan yang cepat? Apakah penghargaan itu hanya sekadar seremoni, hiasan di dinding, atau pencapaian di atas kertas yang indah dibaca namun kosong maknanya?

Pertanyaan besar kini bergelayut di benak setiap orang. Apakah UHC itu hanya janji manis di atas panggung, atau benar-benar hadir menyentuh tangan rakyat yang sekarat?.

Sangat menyayat hati ketika piala di Jakarta bersinar terang, namun di Mitak, harapan rakyat justru meredup dan mati ditelan jalan. Penghargaan itu seolah menjadi sindiran pedas, bahwa implementasi di lapangan masih sangat jauh dari harapan, bahkan terasa menyakitkan bagi mereka yang kehilangan orang tersayang.

Hingga akhirnya publik bertanya. Untuk apa semua gelar dan piala itu, jika nyawa manusia masih saja menjadi taruhan yang kalah?.(JM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *