AMBON,N25NEWS.id-Larangan membeli BBM jenis Pertalite pakai jeriken di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) berimbas pada penjual BBM enceran jenis Pertalite.
Salah satu yang terdampak adalah para penjual BBM enceran jenis Pertalite di Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon,Kamis (22/9/2022).
Mereka terpaksa membeli Pertalite menggunakan mobil angkot atau sepeda motor yang kemudian disedot ke botol-botol enceran.
Hal tersebut dilakukan oleh Boy Titirloloby (44), salah satu penjual BBM enceran jenis Pertalite yang beralamat di Kompleks Kampung Pisang,Desa Poka.
Lelaki yang sering dipanggil dengan nama Dixon itu mengaku dirinya dilema dengan larangan membeli Pertalite menggunakan jeriken.
“Kalau saya pakai mobil angkot untuk isi Pertalite di jerigen 30 liter dengan harga Rp 300 ribu.Dari jerigen 30 liter itu,saya bisa dapat 31 botol dan saya jual Rp 15 ribu per botol,”jelas pria asal Desa Adaut,KKT ini.
Selain itu,Boy Titirloloby menambahkan hasil dari penjualan BBM enceran tersebut,dia bisa mendapat penghasilan 90-100 ribu per hari.Itu,diluar dari profesinya sebagai tukang ojek.
“Saya bersyukur karena dari hasil jual BBM enceran dan ojek,dapat membantu kebutuhan keluarga dan menambah biaya untuk anak sekolah,”ujar pria murah hati ini.
Diakuinya juga,harga BBM yang naik ini,memang bagi masyarakat sangat memberatkan,namun di lain sisi dia dan para pedagang BBM enceran meresponnya dengan positif.Karena bagi mereka pedagang enceran ikut menaikan pendapatan mereka.
“Untuk itu,saya berharap kepada pemerintah dan Pertamina agar usahakan BBM jangan terlalu melambung tinggi,karena ujung-ujungnya masyarakat yang paling merasakan dampaknya,”tandas,bung Dixon.
Penulis : Aris Wuarbanaran
EditorĀ : Redaksi