AMBON,N25NEWS.id – Pertumbuhan ekonomi Maluku yang terus meningkat belum sepenuhnya berdampak pada terbukanya lapangan kerja dan penguatan aktivitas ekonomi masyarakat. Minimnya investasi, lemahnya sektor swasta, serta tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah masih menjadi pekerjaan besar pemerintah.
Persoalan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, dalam Maluku Business Forum 2026 yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Maluku di Hotel Santika Ambon, Minggu (1/11/2026).
Dalam forum yang menghadirkan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Muhammad Jusuf Kalla, Vanath menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Maluku pada 2025 mencapai 4,56 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 5,16 persen pada triwulan pertama 2026 dan 5,31 persen pada triwulan kedua.
Meski menunjukkan tren positif, ia menilai pertumbuhan tersebut masih banyak ditopang belanja pemerintah. Sementara investasi dan aktivitas sektor swasta belum memberikan kontribusi optimal.
Menurut Vanath, minimnya investasi berdampak langsung terhadap terbatasnya kesempatan kerja, terutama pekerjaan formal. Sebagian besar aktivitas ekonomi masyarakat masih bergerak di sektor informal.
Selain itu, ia menyoroti perputaran uang di daerah yang belum maksimal. Penghasilan sebagian masyarakat, termasuk aparatur pemerintah, TNI dan Polri, dinilai belum sepenuhnya dibelanjakan di Maluku sehingga manfaat ekonominya belum optimal dirasakan pelaku usaha lokal.
Persoalan lain adalah ketergantungan terhadap pasokan pangan dan material konstruksi dari luar daerah. Produksi padi di kawasan transmigrasi, misalnya, baru berada pada kisaran 30 persen, sementara sebagian besar kebutuhan pangan masih dipasok dari Pulau Jawa.
Kondisi ini membuat aktivitas pembangunan belum sepenuhnya menciptakan perputaran ekonomi di dalam daerah.
Vanath juga mengingatkan tantangan sektor pertanian akibat fenomena El Niño. Kekeringan dan kebakaran di sejumlah wilayah telah memengaruhi lahan pertanian serta tanaman perkebunan masyarakat, termasuk cengkeh dan pala.
“Kita menerima barang dan program pembangunan, tetapi uangnya tidak seluruhnya berputar di sini. Persoalan seperti inilah yang perlu kita pikirkan bersama agar aktivitas pembangunan benar-benar memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat Maluku,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, Vanath berharap Jusuf Kalla dapat memberikan masukan berdasarkan pengalaman dan kapasitasnya sebagai praktisi ekonomi, terutama dalam mendorong investasi, memperkuat sektor swasta, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas ekonomi lokal.
Ia menilai kehadiran tokoh nasional tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk bertukar gagasan dalam mencari solusi atas persoalan ekonomi Maluku.
Pemerintah Provinsi Maluku juga mengapresiasi ICMI Orwil Maluku yang telah menghadirkan Maluku Business Forum 2026 sebagai ruang diskusi dan pertukaran pemikiran untuk mendorong pembangunan ekonomi daerah.
Kegiatan ini turut dihadiri unsur Forkopimda Maluku, Wakil Ketua Majelis Pengurus Pusat ICMI, Ketua Dewan Pers Indonesia, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Wali Kota Ambon, Bupati Maluku Tenggara, Rektor Universitas Pattimura, Rektor UIN Abdul Muthalib Sangadji, pimpinan perbankan, serta narasumber dan peserta forum bisnis.
Sumber : Diskominfo Maluku
Editor : Redaksi