AMBON,N25NEWS.id-Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku, Maya Baby Lewerissa, mendorong agar pelaksanaan 10 Program Pokok PKK tidak berhenti sebagai program di atas kertas, melainkan benar-benar menjadi gerakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh keluarga dan masyarakat.
Dorongan itu disampaikan Maya saat melakukan penilaian Lomba 10 Program Pokok PKK di Negeri Rutong, Kota Ambon,
Selasa,(3/11/2026).
Menurutnya 10 Program Pokok PKK merupakan fondasi utama dalam membangun ketahanan keluarga.
Dimana Program tersebut menyentuh seluruh aspek kehidupan, mulai dari penghayatan Pancasila, gotong royong, pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga.
“10 Program Pokok PKK bukan hanya kewajiban organisasi. Ini adalah gerakan nyata yang harus hidup di setiap rumah tangga. Dari situlah kita membangun keluarga yang mandiri, sehat, cerdas dan sejahtera,”katanya.
Dikatakan juga, kesejahteraan tidak bisa dibangun secara instan namun harus dimulai dari hal paling dasar yaitu dalam keluarga dan jika keluarga kuat, maka desa akan kuat, dan Maluku pun akan maju.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya peran Dasawisma sebagai ujung tombak PKK.
Kelompok yang terdiri dari 10 hingga 20 kepala keluarga ini dinilai paling memahami kondisi riil di lapangan.
“Dasawisma adalah garda terdepan. Mereka yang tahu persis kondisi keluarga di setiap RT. Karena itu, perannya harus terus dioptimalkan, bukan hanya untuk mendata, tapi juga untuk menggerakkan,” katanya
Lewerissa juga mengingatkan bahwa lomba PKK bukan sekadar ajang untuk mencari desa terbaik. Lomba harus dimaknai sebagai ruang belajar bersama, berbagi pengalaman, dan saling menginspirasi antar kader.
“Lomba ini bukan soal siapa yang paling hebat. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk saling belajar dan saling menguatkan. Tunjukkan apa yang sudah dikerjakan dengan tulus, tidak perlu dibuat-buat,” pesannya kepada kader PKK Rutong,”tambahnya.
Ia juga menitipkan pesan agar di tengah perkembangan zaman, kader PKK tetap menjaga nilai-nilai luhur, seperti semangat gotong royong, adat istiadat, dan nilai keagamaan.
“Pembangunan boleh maju, tapi jati diri jangan hilang. PKK harus menjadi penjaga nilai-nilai itu di tengah masyarakat,” tegasnya.
Kepada tim penilai, Lewerissa berharap proses penilaian dilakukan secara objektif, teliti, dan penuh kebijaksanaan, dengan tetap memberikan apresiasi dan masukan yang membangun.
“Berikan penilaian yang adil, berikan apresiasi, dan berikan masukan untuk kemajuan bersama,” pungkasnya.
(Eten)