SAUMLAKI,N25NEWS-Komandan Brigade Infanteri 27/Nusa Ina (Danbrigif 27/Nusa Ina), Kolonel Inf Sri Widodo, didampingi oleh Komandan Distrik Militer 1507 Saumlaki, memberikan klarifikasi resmi terkait insiden ledakan granat di Desa Atubul Dol, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, yang mengakibatkan dua warga meninggal dunia dan lima lainnya luka-luka.
Konferensi pers ini diselenggarakan pada Selasa (17/3/2026) untuk menjelaskan kronologi, fakta di lapangan, serta langkah tindak lanjut yang diambil pihak TNI.
Dalam paparannya, Kolonel Inf Sri Widodo menegaskan bahwa granat yang meledak diduga merupakan sisa amunisi latihan mortir yang belum meledak sempurna.
“Dari total 198 amunisi yang ditembakkan saat latihan pada tanggal, 8–9 Maret lalu, terdapat satu yang mengalami misfire.Selain itu, dalam penyisiran awal juga ditemukan beberapa amunisi yang belum meledak di sekitar lokasi,” ujar Danbrigif 27/Nusa Ina.
Ia menjelaskan bahwa meskipun setelah setiap latihan selalu dilakukan pemeriksaan dan pembersihan terhadap sisa amunisi, dalam kasus ini proses pembersihan di lokasi latihan memang belum sepenuhnya selesai.
“Lokasi tersebut juga belum dinyatakan ‘clear’ atau aman untuk digunakan kembali oleh masyarakat. Namun, warga diduga telah memasuki area tersebut dan menemukan sisa amunisi tanpa mengetahui bahayanya,” tambahnya.
Danbrigif 27/Nusa Ina juga menekankan sikap empati dan tanggung jawab moral pihak TNI atas kejadian tersebut.
“Kami tidak ingin keluarga korban menanggung musibah ini sendirian.Ini menjadi tanggung jawab moral kami.Bantuan telah diberikan dalam bentuk pengobatan di rumah sakit, dukungan melalui BPJS, hingga pengurusan pemakaman korban. Korban juga memiliki hubungan keluarga dengan prajurit TNI, sehingga peristiwa ini turut menjadi duka bagi keluarga besar TNI Angkatan Darat,” tegasnya.
Lanjut Danbrigif, dalam kesempatan tersebut pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait penanganan insiden ini.
“Saat ini, kami bersama tim penjinak amunisi sedang melakukan penyisiran ulang secara menyeluruh di area latihan. Metode yang digunakan mencakup penggunaan metal detector dan penyisiran manual, mengingat kondisi medan yang tertutup ilalang,” ungkapnya.
Pihak TNI juga kembali mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki area latihan sementara waktu serta segera melaporkan kepada pihak berwenang jika menemukan benda mencurigakan yang diduga sebagai amunisi.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya standar keamanan pasca-latihan militer yang ketat dan transparan guna memastikan tidak ada lagi potensi ancaman bagi masyarakat sipil.(Hans)