AMBON,N25NEWS.id-Acara adat Waai Panggel Pulang yang dilaksanakan mulai dari tanggal 23 Desember 2025 hingga berakhir pada tanggal 1 Januari 2026 membawa dampak positif bagi masyarakat Negeri Waai.Pasalnya, kegiatan tersebut banyak mendapat dukungan baik dari semua masyarakat yang pulang ke Negeri Waai maupun yang berada di tanah perantauan.
Ketua Panitia Waai Panggel Pulang,Dr. Amelia Tahitu, M.Si kepada media mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih kepada seluruh masyarakat Waai yang terlibat dalam acara Waai Panggel Pulang.
“Dimana,kami telah melaksanakan kegiatan dengan aman dan damai, kami juga berterima kasih kepada semua pemangku adat yang telah bekerja demi mensukseskan kegiatan tersebut secara adat dengan baik,”ungkap Dr.Amelia Tahitu
Ditambahkan juga, kegiatan ini terlaksana berkat dukungan dari seluruh masyarakat Waai.Untuk itu, panitia sangat berterima kasih kepada semua anak cucu Negeri Waai telah mensukseskan kegiatan Waai penggel pulang.
“Selaku panitia kami juga sangat berterima kasih kepada pihak keamanan TNI Polri yang setia menjaga kedamaian di Negeri Waai,”tandas Dr Amelia Tahitu.
Untuk diketahui bersama bahwa dalam acara tersebut ada beberapa poin yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat Negeri Waai, lewat deklarasi tersebut diantaranya,Deklarasi Aman Waai Hutu Yupu Yana II,
Dengan ini kami sebagai anak cucu Negeri Hunimua Risinai Waitutuitu Labuhan Saheut yang ada di Negeri maupun yang datang dari berbagai Negeri seberang dan tergabung dalam Aman Waai Hutu Yupu Yana II mendeklarasikan :
Pertama, bahwa Negeri Hunimua Risinai Waitutuitu Labuhan Saheut sedang tidak baik-baik saja dan kondisi ini harus segera disatukan oleh seluruh anak cucu negeri yang terjaring dalam semangat dan cinta pada negeri.
Kedua, bahwa Negeri Waai sedang berhadapan dengan berbagai persoalan kompleks yang harus segera diresponi secara baik, antara lain persoalan kesejahteraan rakyat, infrastruktur dasar, pendidikan, kesehatan, sampah dan lingkungan, pengelolaan sumber daya manusia dan alam, moralitas dan spiritualitas manusia Waai, pariwisata, tata kelola pemerintahan, dan pelestarian adat dan budaya negeri. Persoalan-persoalan ini harus segera mendapat respons dari seluruh komponen negeri, terutama Pemerintah Negeri, gereja, lembaga adat, institusi pendidikan dan kesehatan.
Ketiga, perlu diakui juga bahwa Negeri Waai memiliki potensi yang melimpah baik manusia dan alamnya yang dapat diberdayakan untuk kemajuan negeri Waai. Maka dengan itu, harapan haruslah tetap hidup,sebab dengan harapan yang teguh kita dapat menatap masa depan Negeri yang gemilang.
Keempat, sebagai anak cucu Negeri Waai kami menyatakan sikap dan komitmen untuk sama-sama memperbaiki negeri Hunimua Risinai Waitutuitu Labuhan Saheut yang merupakan anugerah Allah serta rintisan Tete Nene Moyang. Ini ialah sumpah yang kami ikrarkan di atas tanah ini, disaksikan oleh lautan biru, Salahutu yang hijau, serta Tete Nene Moyang yang jiwanya tak pernah mati. Di atas ikrar ini, Tuhan Allah berdiri sebagai saksi atas ucapan anak Negeri yang lahir dari hati.
Kelima,sumpah ini akan kami tepati dan barangsiapa yang mengingkari cintanya atas negeri ini akan dicatat dalam sejarah Negeri Waai turun temurun.
Keenam, sambil membenahi negeri Hunimua Risinai Waitutuitu Labuhan Saheut kami akan tetap songsong masa depan negeri dengan cinta dan persaudaraan yang oleh kehendak Tuhan Allah akan dirayakan dengan teguh kembali di atas tanah ini. Maka, tujuh tahun dari sekarang, yaitu tahun 2032, kami akan kembali pulang dan menatap lagi negeri ini dengan bangga sambil berteriak, “Sio, Negeri Waai Manise”.
Usai melakukan seluruh rangkaian acara kegiatan tersebut diakhiri dengan makan bersama atau lebih dikenal dengan sebutan Makan Patita Negeri.(Eten)