AMBON, N25NEWS.id – Semangat melestarikan musik tradisional jukulele terus tumbuh di kalangan pelajar di Kota Ambon. Namun, antusiasme anak-anak untuk bermain musik tersebut masih dihadapkan pada satu persoalan keterbatasan alat musik jukulele di sekolah.
Kondisi itu terlihat saat Moluccan Jukulele Leader (MJL) kembali melakukan roadshow ke sekolah yang memiliki komunitas jukulele. Kali ini, tim MJL mengunjungi SD Negeri Teladan Ambon, Air Salobar, Jumat (11/9/2026).
Kedatangan tim MJL yang dipimpin Nicho Tulalessy disambut Kepala Sekolah Eva Lalonka, S.Pd.SD, dewan guru serta para siswa yang tergabung dalam komunitas jukulele sekolah.
Bagi MJL, roadshow ke sekolah bukan sekadar kunjungan, tetapi menjadi bagian dari komitmen untuk melihat langsung perkembangan komunitas jukulele sekaligus memberikan pendampingan kepada para pelajar.
Geri Da Costa MJL mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat dari dekat perkembangan jukulele di sekolah-sekolah, termasuk komunitas yang ada di SD Negeri Teladan Ambon.
Ia mengapresiasi antusiasme para siswa yang dinilai sangat tinggi dalam mengikuti kegiatan jukulele. Sambutan hangat dari pihak sekolah juga menjadi bagian penting dalam mendorong keberlanjutan komunitas tersebut.
Selain coaching clinic, kata Gery, MJL memberikan motivasi kepada anak-anak agar tidak berhenti bermain dan mencintai jukulele sebagai bagian dari musik tradisional Maluku.
“MJL tetap berkomitmen untuk terus mengkampanyekan dan mendorong anak-anak di Maluku untuk bermain jukulele,” ujarnya.
Kepala SD Negeri Teladan Ambon, Eva Lalonka, S.Pd.SD, mengatakan pembentukan komunitas jukulele di sekolah merupakan bagian dari upaya menyelaraskan visi dan misi sekolah dengan visi Kota Ambon sebagai kota musik dunia.
Menurutnya, jukulele tidak hanya menjadi sarana untuk mengembangkan minat dan bakat siswa di bidang musik, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan sekaligus melestarikan musik tradisional kepada generasi muda.
“Anak-anak memiliki minat yang tinggi terhadap jukulele. Tetapi kami masih menghadapi keterbatasan alat musik jukulele,” kata Eva.
Keterbatasan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah. Sebab, semakin banyak siswa yang tertarik bermain jukulele, semakin besar pula kebutuhan sekolah terhadap ketersediaan alat musik.
Karena itu, Eva berharap ada dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak untuk membantu penyediaan alat musik jukulele bagi siswa di sekolahnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, ia mengaku bersyukur karena MJL hadir memberikan pelatihan sekaligus motivasi kepada para siswa.
Eva juga menyampaikan apresiasi kepada Nicho Tulalessy bersama tim MJL yang telah meluangkan waktu mengunjungi sekolah dan memberikan coaching clinic kepada anak-anak.
Ia berharap pendampingan MJL tidak berhenti pada kunjungan kali ini.
“Kami berharap kunjungan ini bukan hanya hari ini, tetapi MJL dapat terus mendampingi sekolah kami dalam mengembangkan musik tradisional jukulele,” harapnya.
Sudut beritanya saya buat lebih kuat: minat anak tinggi, tetapi alat musik terbatas. Jadi MJL bukan hanya menjadi objek seremoni, melainkan masuk sebagai solusi/penggerak, sementara pernyataan kepala sekolah menjadi fakta masalah sekaligus harapan.