AMBON,N25NEWS.id-Kepala Sekolah SMA Xaverius Ambon,RD.I.Pius Titirloloby,SS mengatakan, Program Sekolah Penggerak adalah upaya untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila,atau proyek pengembangan profil pelajar Pancasila (5P).
“Untuk proyek yang ketiga ini kami mengambil kearifan lokal yaitu lebih utamanya mengkaji nilai-nilai budaya Ukulele,”ungkap Titirloloby kepada N25NEWS.id,saat ditemui disela-sela kegiatan Ukulele di SMA Xaverius Ambon,Selasa (17/5/2022).
Dijelaskannya,kearifan lokal sebagai sumber budaya serta aset daerah yang perlu dipertahankan dan di kembangkan.Olehnya, SMA Xaverius Ambon mengutamakan karakter anak-anak dengan membuat program yang menggali keterampilan dalam hal bermain musik tradisional Ukulele,sehingga anak-anak dapat mengenal nilai-nilai budayanya dan sejarahnya.
“Kita memang inginkan dengan musik Ukulele ini, anak-anak bisa kolaborasi dengan seni lainnya seperti ada kolaborasi dengan seni suara atau olah vokal,juga tari-tarian,”ujar Titirloloby.
Karena itu,kata Titirloloby,pihaknya tentu terus berkoordinasi dengan Nicho Tulalessy sebagai pelatih Ukulele di Maluku.Koodinasi itu dilakukan untuk bagaimana sebagai pelatih Nicho Tulalessy bisa mengarahkan anak-anak untuk bisa bermain Ukulele.Dengan demikian anak-anak bisa menciptakan hasil karya sendiri, dan dengan alat musik Ukulele mereka bisa menulis lagu dan menciptakan tari-tarian.
Hal ini ujar Titirloloby sangat berdampak pada potensi anak-anak.Dimana kolaborasi ini menghasilkan hal yang baik menyenangkan mereka dan utamanya di belakang itu ada nilai-nilai profil pelajar Pancasila.
Adapun, program 5P dengan menerapkan nilai-nilai budaya Ukulele ini berhasil melahirkan kebersamaannya,kristis dan inovatif di kembangkan lewat kegiatan lewat musik Ukulele.Memang dalam kegiatan 5P ini yang diutamakan soal nilai-nilai karakternya bukan nilai komulatifnya sehingga pihak sekolah senang bahwa anak-anak bisa seperti ini.
Olehnya kami rencakan untuk nanti kembangkan musik Ukulele dalam high school sehingga mereka ada latihan rutin dan bisa di berdayakan,di kembangkan juga bukan cukup untuk sekolah kami tapi juga untuk masyarakat umumnya, mengkampanyekan tentang nilai-nilai budaya dan juga soal perdamaian kebersamaan itu bisa dikembangkan lewat kegiatan ini,”ucapnya.
Dikesempatan yang sama Finsen Anastohy salah satu siswa SMA Xaverius Ambon mengatakan musik tradisional Ukulele merupakan warisan budaya yang sangat berarti bagi generasi jaman now.Namun,dia mengakui Ukulele masih tergolong kurang peminatnya.
“Tapi dengan menerapkan budaya Ukulele sekarang,saya harapkan dapat menjadi pelestarian budaya agar anak-anak muda jaman sekarang (jaman now) tidak selalu bermain gedget,karena sekarang itu anak-anak muda sering bermain gedget dan jarang untuk bermain Ukulele,”ujar siswa kelas 10 3 ini.
Lebih lanjut menurutnya anak-anak jaman now masih berpikir bahwa bermain Ukulele itu hanya membuang-buang waktu padahal mereka tidak tau bahwa nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Ukulele itu bisa diperkenalkan kepada budaya-budaya luar juga.
“Jadi bukan hanya budaya luar saja yang masuk,tetapi kita juga bisa memperkenalkan budaya lokal kita,”terang Finsen.
Sedangkan Nicho Tulalessy yang merupakan aktor utama perkembangan musik Ukulele di Maluku mengaku bangga bahwa Ukulele sudah masuk ke sekolah-sekolah ada di SD,SM dan puji Tuhan bahwa hari ini SMA Xaverius dengan group Ukulele sebagai proyek sekolah penggerak.Dimana,proyek ini untuk mengkaji nilai-nilai musik tradisional Ukulele.
“Jujur ketika saya dihubungi sebagai narasumber untuk melatih anak-anak di SMA Xaverius selama satu Minggu ini,saya melihat bahwa mereka sudah mulai mencintai musik Ukulele.Hal itu terlihat dari bagaimana mereka pentas dan bermain Ukulele,”ujar Founder AUKC ini.
Selain itu, Nicho Tulalessy menilai,dengan musik Ukulele ini SMA Xaverius berhasil mengemasnya dengan baik dan menjadi sesuatu yang baru bagi semua SMA di Maluku,olehnya patut diapresiasi.Sebab,untuk group di sekolah SMA Xaverius adalah SMA komunitas group pertama di sekolah,yang membuat bentuk group Ukulele dan belajar di sekolah.
“Dan bagi saya apa yang dibuat oleh siswa-siswi di SMA Xaverius sangat luar biasa.Karena selain mereka berhasil mengembangkan talenta bermusik mereka juga bisa menulis syair dan menjadikan sebuah lagu ini luar biasa,”akuinya.
“Oleh karena itu,saya pribadi sangat berharap bahwa sekolah lain juga akan termotivasi untuk hal yang telah di rintis oleh SMA Xaverius untuk mempertahankan kita punya nilai-nilai budaya Ukulele yang sudah berkembang di Maluku dan bahkan sudah keluar daerah terutama Papua,”pungkasnya.
Sementara itu,Kepala Bidang (Kabid) SMA/SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Maluku,Sirhan Pelu mengatakan Program Sekolah Penggerak merupakan salah satu produk dari pada profil pelajar Pancasila,termasuk dalam tahap lokal 3.
Dikatakannya, untuk SMA Xaverius Ambon pengembangan Program Sekolah Penggerak itu berbasis muatan lokal dengan musiknya kearifan lokal dari pada Maluku dengan menciptakan lagu dari anak-anak sendiri.
“Karena ini merupakan bentuk inovasi dari pada siswa-siswi.Olehnya,saya berterima kasih karena disini memang penyemangat dari teman-teman guru itu luar biasa.Salah satunya saya dapat informasi bahwa SMA Xaverius ini baru pertama kali SMA yang nanti memprosikqn inovasi secara kearifan lokal yang ada di Maluku,”jelasnya.
Untuk itu,terkait dukungan dinas sendiri,Sirhan tegaskan bahwa dukungan itu sudah dimulai dari tahap proses sekolah penggerak dari tahap pertama.”Itu kita sudah berikan dukungan dan kita tau di Maluku untuk tahap pertama itu ada 9 sekolah penggerak salah satunya SMA Xaverius dan kita tetap memberikan pendampingan untuk profil pelajar Pancasila pada masing-masing program sekolah penggerak,”tandasnya.