Saumlaki, N25NEWS.id – Tiga elemen pemuda yakni DPD KNPI Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), LSM Aliansi Tanimbar Raya (ALTAR), dan Forum Cinta Bumi Tanimbar (FCBT) yang tergabung dalam Suara Pemuda Tanimbar menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati KKT dan Kantor Perwakilan Inpex Saumlaki, Kamis (9/4).
Aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap kinerja Pemerintah Daerah KKT dan pihak Inpex Masela dalam pengelolaan Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela. Massa menilai, baik Pemda sebagai tuan rumah maupun Inpex sebagai operator proyek belum menjalankan peran secara maksimal.
Dalam aksi yang mengusung tema “Boikot Ground Breaking Inpex Masela”, para demonstran terlebih dahulu mendatangi Kantor Bupati KKT dan diterima oleh Sekretaris Daerah KKT, Brampy Moriolkossu. Dalam dialog tersebut, perwakilan pemuda menyampaikan sejumlah tuntutan penting.
Di antaranya, Pemda KKT diminta lebih aktif dalam seluruh proses persiapan PSN Blok Masela, termasuk mendeteksi potensi konflik sejak dini. Selain itu, Pemda juga diminta tidak mencampuri urusan teknis proyek secara berlebihan, serta segera mempersiapkan tenaga kerja lokal.
Massa juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir masyarakat di wilayah ring satu agar tidak lagi bergantung pada sektor tradisional seperti nelayan dan petani, melainkan beralih pada pengembangan UMKM. Selain itu, penyelesaian persoalan lahan masyarakat diminta harus dituntaskan sebelum pelaksanaan ground breaking.
Menanggapi hal tersebut, Sekda KKT menyampaikan bahwa pada prinsipnya apa yang disuarakan oleh massa sejalan dengan langkah yang sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Namun, ia mengakui adanya kekurangan dalam komunikasi karena selama ini Pemda bergerak secara “silent”.
Usai dari Kantor Bupati, massa kemudian bergerak menuju Kantor Perwakilan Inpex di Villa Bukit Indah. Aksi sempat diwarnai dengan orasi dan pembakaran ban sebelum akhirnya pihak Inpex menerima perwakilan demonstran untuk berdialog.
Perwakilan Inpex Masela, Dian Fiana Ratna Dewi selaku Manager Social Performance & Land Acquisition menerima aspirasi para pemuda. Dalam pertemuan tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain keterbukaan informasi publik terkait tahapan proyek, transparansi komunikasi, keadilan dalam penyaluran CSR, serta proses perekrutan tenaga kerja yang dinilai tertutup dan sarat praktik KKN.
Menanggapi hal itu, Dian Fiana menyatakan bahwa seluruh masukan akan menjadi bahan evaluasi ke depan. Ia juga mengajak semua pihak untuk bersabar karena proyek tersebut masih dalam tahap awal.
“Kita semua hendaknya lebih bersabar, karena proyek ini ibarat bayi yang belum lahir, masih dalam proses. Terkait CSR sudah kami jalankan, meskipun kami akui belum sempurna,” ujarnya.
Dalam pernyataan penutup, perwakilan FCBT, Anders Luturyali, menyampaikan apresiasi kepada pihak Inpex yang telah membuka ruang dialog. Sementara itu, Hernanto Permelay Permaha dari LSM ALTAR berharap seluruh tuntutan pemuda dapat segera diakomodir.
Ketua DPD KNPI KKT, Alex Belay, bahkan mendesak agar Presiden Inpex segera datang ke Tanimbar dalam waktu dua pekan untuk bertemu langsung dengan pemuda. Ia menegaskan, jika tuntutan tersebut tidak direspons, maka akan ada gelombang aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar.
“Jika Inpex Masela tidak mampu mengakomodir kepentingan masyarakat, termasuk aspek pengamanan oleh TNI/Polri dan Satpol PP, maka lebih baik Inpex angkat kaki dari Tanimbar,” tegasnya.
Pertemuan tersebut ditutup dengan penyerahan syal tenun khas Tanimbar kepada Dian Fiana Ratna Dewi sebagai bentuk penghargaan dari pemuda, dan diakhiri dengan sesi foto bersama.
Editor : Redaksi