JAKARTA,N25NEWS id – Potensi sagu di Maluku belum sepenuhnya memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Padahal, dengan luas lahan mencapai 36.463 hektare dan produksi 14.123 ton, komoditas lokal ini memiliki peluang besar dikembangkan menjadi industri pangan dan agroindustri berskala nasional.
Mendorong peluang tersebut, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengusulkan pengembangan dan hilirisasi sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Tahun 2027.
Usulan itu disampaikan saat menghadiri Sago Business Forum yang diinisiasi Kementerian Perindustrian di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Kabupaten SBT menjadi wilayah dengan potensi sagu terbesar di Maluku. Dari total potensi lahan 36.463 hektare, sekitar 35.421 hektare atau 97 persen berada di kabupaten tersebut.
Besarnya potensi ini dinilai menjadi peluang untuk membangun industri pengolahan sagu yang tidak hanya menghasilkan bahan pangan mentah, tetapi juga produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Gubernur Hendrik Lewerissa mengatakan, Pemprov Maluku telah mengusulkan program hilirisasi sagu di SBT kepada Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian PPN/Bappenas. Pemerintah daerah berharap usulan tersebut dapat masuk dalam perencanaan pembangunan nasional dan ditetapkan sebagai PSN 2027.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Pemprov Maluku menyiapkan sejumlah langkah, di antaranya penataan dan pengembangan tanaman sagu, diversifikasi pangan sebagai alternatif pengganti beras, serta konservasi kawasan hutan sagu secara berkelanjutan.
Pemerintah juga mendorong pembenahan pengelolaan kebun sagu dengan melibatkan masyarakat, sekaligus membangun kemitraan bersama pelaku usaha untuk memperkuat agroindustri.
Hilirisasi sagu ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya agenda kemandirian pangan, swasembada pangan, serta peningkatan nilai tambah melalui industrialisasi. Kebijakan tersebut juga mendukung Sapta Cita ke-6 Pemprov Maluku tentang pertumbuhan ekonomi inklusif berbasis hilirisasi komoditas unggulan.
Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar menetapkan sagu sebagai proyek strategis. Yang lebih penting adalah memastikan pengembangan industri benar-benar melibatkan petani dan masyarakat lokal sebagai pelaku utama.
Pemprov Maluku berharap hilirisasi sagu mampu membuka investasi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dengan demikian, sagu tidak hanya dipertahankan sebagai warisan pangan tradisional Maluku, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat daerah.
Sumber : Diskominfo Maluku
Editor : Redaksi