AMBON,N25NEWS.id — Kenaikan harga minyak goreng subsidi merek “Minyak Kita” di Kota Ambon kembali memicu keresahan di kalangan masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga. Harga yang sebelumnya terjangkau kini dilaporkan melonjak hingga menyentuh Rp20.000 per liter, bahkan di sejumlah titik mulai sulit ditemukan di pasaran.
Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, terutama ibu-ibu yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari berjualan gorengan dan kue. Mereka mengaku semakin kesulitan memperoleh keuntungan di tengah mahalnya bahan baku, ditambah kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.
“Kalau terus begini, kami makin susah. Minyak mahal, bahan lain juga naik, pembeli pun berkurang,” ujar salah satu penjual gorengan di kawasan Ambon.
“Minyak Kita” selama ini dikenal sebagai minyak goreng subsidi dengan kualitas baik dan harga terjangkau, sehingga menjadi pilihan utama masyarakat kecil. Namun, kelangkaan yang mulai terjadi membuat posisi ekonomi rumah tangga semakin tertekan.
Upaya pengawasan melalui inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh Bulog bersama Satgas Pangan dinilai belum memberikan dampak signifikan. Sejumlah warga menilai, praktik di lapangan masih jauh dari harapan.
Menurut laporan masyarakat, setelah sidak dilakukan dan harga sempat ditertibkan, sebagian pedagang kembali menjual minyak dengan harga tinggi, bahkan mencapai Rp18.000 per liter. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa pengawasan yang dilakukan belum menyentuh akar persoalan.
“Seolah-olah sidak hanya formalitas. Setelah petugas pergi, harga kembali naik. Ini yang bikin kami kecewa,” ungkap warga lainnya.
Para pelaku usaha kecil pun berharap pemerintah daerah dapat bertindak lebih serius dan responsif terhadap persoalan ini. Mereka meminta adanya langkah konkret untuk memastikan distribusi berjalan lancar serta harga tetap sesuai ketentuan.
“Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar sidak. Pemerintah harus cepat tanggap dan peka. Jangan sampai ini dianggap hal biasa yang harus kami terima,” tegas seorang penjual.
Di tengah situasi pasar yang tidak stabil, para ibu rumah tangga sebagai pengatur keuangan keluarga menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Mereka kini menanti keseriusan pemerintah dalam mengatasi lonjakan harga dan kelangkaan minyak goreng subsidi di Kota Ambon.
Editor : Redaksi