Festival Jukulele Sirimau: Bukan Sekadar Lomba, Pemkot Ambon Dorong Musik Lokal Jadi Penggerak Ekonomi

by
by

AMBON,N25NEWS.id-Jukulele bukan sekadar alat musik yang menghasilkan alunan nada khas. Di Kota Ambon, alat musik tersebut kini didorong menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus pintu masuk untuk mengembangkan kreativitas generasi muda dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Semangat itu terlihat dalam Festival Jukulele Tingkat Kecamatan Sirimau 2026 yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-451 Kota Ambon dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan yang memperebutkan Piala Wali Kota Ambon tersebut berlangsung di Gedung Taman Budaya, Karang Panjang (Karpan), Kota Ambon, Senin (10/8/2026).

Festival ini diikuti tujuh kelompok peserta. Masing-masing kelompok beranggotakan sekitar 20 anak berusia 10 hingga 16 tahun dari jenjang SD, SMP dan MTs.

Camat Sirimau, Aulia Wailaulu, mengatakan festival tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas musik sekaligus memperkuat identitas Ambon sebagai kota musik.

Menurut dia, pengembangan jukulele perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

“Alat musik Ambon ini harus terus dikembangkan guna membangun industri musik di Kota Ambon. Yang terpenting, kita semua memelihara jati diri budaya Kota Ambon,” kata Aulia.

Festival tersebut merupakan hasil kerja sama Tim Penggerak PKK Kecamatan Sirimau dengan Amboina Music Office (AMO).

Wakil Wali Kota Ambon, Elly Toisutta, yang membuka kegiatan tersebut, menegaskan predikat Ambon sebagai kota musik tidak boleh dipandang hanya sebagai penghargaan.

Menurutnya, predikat tersebut membawa tanggung jawab bersama untuk menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan musik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Ambon.

“Predikat kota musik bukan sekadar penghargaan. Lebih dari itu, kota musik merupakan identitas dan tanggung jawab bersama untuk terus menjaga dan mengembangkan kekayaan musik yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Ambon,” ujar Elly.

Ia mengatakan bagi masyarakat Ambon dan Maluku, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Musik juga menjadi media ekspresi budaya, membangun kebersamaan serta mempertemukan masyarakat di tengah berbagai perbedaan.

Karena itu, menurut Elly, jukulele memiliki nilai lebih dari sekadar alat musik tradisional.

“Jukulele bukan sekadar alat musik tradisional yang menghasilkan nada yang unik, tetapi juga membawa kreativitas dan nilai-nilai budaya,” katanya.

Elly mengapresiasi panitia yang telah memberikan ruang kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, untuk menunjukkan bakat mereka di bidang musik.

Ia menilai Kecamatan Sirimau memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pusat aktivitas pemerintahan, perdagangan, pendidikan, sosial dan budaya di Kota Ambon.

Dengan potensi masyarakat yang beragam dan dinamis, festival jukulele dinilai dapat menjadi ruang memperkuat interaksi sosial sekaligus mengembangkan potensi budaya lokal.

“Festival ini bukan semata-mata untuk mencari juara, tetapi juga menjadi ruang dan wahana untuk mempererat kebersamaan,” ujar Elly.

Menurut dia, kegiatan seni dan budaya juga harus memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, penyelenggaraan festival diharapkan tidak hanya memberi manfaat kepada peserta dan pelaku seni, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM dan pedagang kecil untuk ikut tumbuh.

“Untuk menggerakkan ekonomi warga, kegiatan seni harus memberi manfaat bagi masyarakat, pelaku UMKM serta pedagang kecil untuk tumbuh bersama,” katanya.

Elly berharap festival tersebut dapat mendorong penguatan potensi dan kreativitas musik lokal, mempererat persaudaraan di tengah keberagaman, serta menjadi salah satu langkah membawa talenta musik Ambon ke tingkat nasional.

“Melalui festival ini para peserta dapat menunjukkan kemampuan, kreativitas dan karya terbaik. Lewat festival ini juga kita dapat membangun kebersamaan dalam upaya mengangkat kreativitas musik ke kancah nasional,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan melalui musik.

“Tetaplah menjadi satu warga Ambon. Musik adalah bahasa persatuan yang tidak terpisahkan,” katanya.

Festival Jukulele Tingkat Kecamatan Sirimau 2026 akhirnya tidak hanya menjadi arena kompetisi tujuh kelompok peserta.

Lebih jauh, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana musik dapat ditempatkan sebagai bagian dari pelestarian budaya, ruang tumbuh bagi anak muda, penguatan identitas Kota Ambon sebagai kota musik, hingga peluang menggerakkan ekonomi masyarakat.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemerintah Kota Ambon, perwakilan General Manager PT PLN wilayah Maluku, Camat Sirimau, Tim Penggerak PKK Kecamatan Sirimau serta sejumlah undangan lainnya.

Naskah ini sengaja menempatkan “Kota Musik bukan sekadar predikat” dan dampak festival terhadap anak muda, budaya, serta UMKM sebagai nilai berita utama agar artikelnya tidak terasa sekadar berita seremonial.

Penulis : Kris
Editor : Aris Wuarbanaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *