AMBON,N25NEWS.id-Ketua TP PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, menegaskan bahwa persoalan stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi ancaman serius bagi masa depan generasi dan pembangunan daerah.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pra-Musrenbang Tematik Stunting Kota Ambon.Lisa menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis yang terjadi akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan anak.
“Stunting adalah gangguan pertumbuhan kronis akibat kekurangan gizi, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi pada 1.000 hari pertama kehidupan.Hal ini sangat berdampak pada kesehatan serta menurunkan kecerdasan anak,” jelasnya.
Ia menambahkan,dampak stunting tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga berimbas pada pembangunan nasional.
“Ini bukan sekadar masalah tinggi badan, melainkan ancaman bagi masa depan Indonesia karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan kerugian di berbagai sektor,” tegasnya.
Menurut Lisa, keberhasilan Kota Ambon dalam menurunkan angka stunting secara bertahap merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, termasuk TP PKK yang aktif di lapangan.
“Tim Penggerak PKK Kota Ambon terus berkolaborasi dengan pemerintah melalui sosialisasi pola asuh, edukasi gizi seimbang, serta penguatan posyandu,” katanya.
Ia menjelaskan, berbagai program telah dilakukan, seperti edukasi “Isi Piringku”, kunjungan lapangan, serta pemberdayaan kader posyandu untuk memantau tumbuh kembang anak. Selain itu, kolaborasi lintas sektor juga melibatkan berbagai dinas terkait.
“Dalam kunjungan lapangan, kami juga melibatkan dinas pertanian, dinas kesehatan, dinas perikanan, hingga dinas sosial untuk memberikan edukasi dan bantuan kepada masyarakat,” ujarnya.
Lisa juga mengungkapkan bahwa bantuan yang diberikan kepada keluarga stunting berasal dari kontribusi para anggota sebagai “orang tua asuh”.
“Bantuan nutrisi seperti susu dan bahan makanan diberikan secara rutin kepada anak-anak stunting. Dana ini berasal dari iuran yang disisihkan setiap bulan oleh anggota sebagai bentuk kepedulian,” ungkapnya.
Berdasarkan data terbaru per Februari 2026, jumlah kasus stunting di Kota Ambon tercatat sebanyak 271 kasus.
“Data menunjukkan 271 kasus, terdiri dari 80 balita sangat pendek dan 191 balita pendek dengan prevalensi 1,58 persen. Ini bukti bahwa kolaborasi kita memberikan dampak, meskipun belum signifikan,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa TP PKK bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab dalam penanganan stunting.
“PKK tidak memiliki anggaran khusus stunting. Kami hanya membantu pemerintah melalui sosialisasi dan edukasi di lapangan. Karena itu, penanganan stunting adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Lisa turut mengapresiasi para kader PKK yang tetap bekerja meski dengan keterbatasan.
“Kader PKK tetap semangat turun ke lapangan meskipun dengan keterbatasan. Ini bentuk pengabdian untuk membantu pemerintah dan masyarakat,” katanya.
Diakhir sambutannya, ia mengajak seluruh pihak untuk terus bersinergi demi masa depan anak-anak di Kota Ambon.
“Mari kita satukan komitmen dan semangat untuk menurunkan angka stunting, demi melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045,” tutupnya.(**)